Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Pegiat Seni Bondowoso Ini Terus Telaten Ajarkan Seni Pada Siswa Sejak Dini, Begini Kisah Keseruannya

Ilham Wahyudi • Senin, 23 Februari 2026 | 18:10 WIB

TELATEN: Koordinator Gas Bondowoso mengajarkan cara bermain gamelan kepala siswa yang datang ke tempatnya.
TELATEN: Koordinator Gas Bondowoso mengajarkan cara bermain gamelan kepala siswa yang datang ke tempatnya.

CURAHDAMI, Radar Ijen - Di sebuah sanggar sederhana di Kecamatan Curahdami, suara gamelan berpadu tawa bocah PAUD dan TK. Di tengah gempuran budaya digital, para seniman Bondowoso memilih menanam akar, mengajarkan tradisi sejak dini, tanpa tarif, tanpa pamrih.

Bilah-bilah gamelan itu disentuh perlahan. Tangan-tangan kecil mencoba menyesuaikan ritme. Ada yang masih kikuk, ada pula yang mulai percaya diri.

Di sudut ruangan, beberapa guru PAUD mengawasi sambil tersenyum.

Di tempat itulah Group Apresiasi Seni Bondowoso (GAS) memulai gerakan sunyi bernama INI BUDI (Anak Indonesia, Belajar Berbudaya Sejak Dini).

Sejak Januari 2026, sudah 630 anak dari 17 lembaga PAUD dan TK, serta empat kelompok belajar, datang bergantian.

Mereka tak dipungut biaya. Cukup mengatur jadwal, lalu duduk melingkar, mengenal bunyi yang dulu akrab di telinga leluhur. Koordinator GAS Bondowoso, Junaidi, karib disapa Bang Jun, menyambut anak-anak itu dengan kesabaran khas seniman.

Mereka tak hanya diajari memukul saron atau kenong.

Anak-anak juga diperkenalkan cara menghormati seni budaya warisan leluhur. Setelah tahap pengenalan, suasana berubah menjadi lebih hidup. Dongeng-dongeng legenda Bondowoso mengalir, diiringi gamelan.

Kemudian, seni musik kentrung mulai diperkenalkan, tradisi tutur yang pelan-pelan jarang terdengar.

"Intinya ini sedekah seni dari GAS," ujarnya.

Bang Jun sadar, nilai pembelajaran seni tradisi tak murah jika dihitung dengan angka. Dia menerangkan jika berbicara nominal apa yang diajarkan pasti tak murah.

Namun, karena GAS ingin bersedekah pemahaman seni dan budaya akhirnya pihaknya memberikan pembelajaran secara gratis.

Di era ketika anak-anak lebih akrab dengan layar gawai ketimbang bunyi gamelan, ia merasa langkah kecil itu menjadi penting.

"Ketika ada pembelajaran, saya bahagia. Saya mensyukuri GAS bisa bermanfaat," pungkasnya. (ham/bud)

 

Editor : M. Ainul Budi
#seni #PAUD #tk #Bondowoso