TAMANSARI, Radar Ijen - Mahasiswa yang tergabung dalam BEM Kampus At-Taqwa menyerukan pentingnya membuka ruang dialektika publik secara rutin di Bondowoso.
Pihak tersebut menegaskan bahwa kemajuan daerah tidak bisa dilihat secara parsial, melainkan harus dibangun melalui keterhubungan antarsektor dan budaya dialog yang hidup.
Perwakilan BEM At-Taqwa Ahmad Rifandi menjelaskan, kemajuan negara maupun daerah mensyaratkan adanya budaya diskusi, tukar gagasan, serta keterbukaan antara pemerintah dan masyarakat.
“Wilayah dan daerah harus saling terhubung dan saling menopang. Di dalamnya harus hidup budaya dialektika. Tanpa itu, pengelolaan potensi tidak akan maksimal,” ujarnya.
Ia menjelaskan, mahasiswa mengkaji berbagai aspek pembangunan, mulai dari geologi, kebudayaan, sosial, ekonomi, hingga pendidikan.
Semua aspek tersebut, kata dia, saling berkaitan. Fondasi dari kemampuan mengelola seluruh potensi itu adalah ideologi yang diterjemahkan dalam praktik dialog yang sehat dan terbuka.
Rifandi menilai, forum yang difasilitasi JMSI Bondowoso menjadi ruang refleksi penting, termasuk untuk mengevaluasi kinerja pemerintah.
Ia menegaskan, kritik yang disampaikan bukan untuk saling menyalahkan, melainkan untuk melihat apa saja yang masih belum tertata dengan baik, terutama ketika ruang dialog belum sepenuhnya dibuka kepada masyarakat dan pelaku di lapangan.
Mahasiswa, lanjutnya, mengusulkan agar setiap organisasi perangkat daerah (OPD) membuka forum diskusi minimal satu kali dalam sebulan.
Forum tersebut melibatkan pemerintah, masyarakat, dan pemangku kepentingan sesuai bidang masing-masing.
“Kami sadar persoalan ini tidak bisa selesai dalam satu malam. Tapi minimal ada ruang rutin untuk berdialog,” tegasnya.
Ia juga menyoroti kondisi pembangunan manusia di Bondowoso.
Menurutnya, pertumbuhan ekonomi memang terlihat, namun konstruksi sosial masyarakat justru cenderung menurun.
“IPM kita masih rendah, angkanya sekitar 31 dan menjadi salah satu yang terendah. Ini harus kita akui secara jujur agar bisa berbenah,” katanya.
Selain itu, pengembangan pendidikan dinilai tidak boleh hanya berorientasi pada kampus luar daerah, sementara perguruan tinggi di Bondowoso masih membutuhkan perhatian dan fasilitasi. (faq/bud)
Editor : M. Ainul Budi