RADAR JEMBER - Banjir bandang dahsyat yang melanda Aceh Tamiang menggugah nurani banyak pihak.
Termasuk komunitas Makelar Akhirat, dari Bondowoso Jatim.
Selama lebih dari sebulan, mereka membantu warga bertahan dan bangkit dari salah satu bencana terparah di wilayah tersebut.
Sebanyak 16 relawan Makelar Akherat Bondowoso terlibat secara bergantian sejak 9 Desember 2025 hingga 10 Januari 2026. Jauh sebelum berangkat, aksi kemanusiaan telah dimulai.
Sejak 3 Desember 2025, relawan menggalang dana secara mandiri, mengamen di persimpangan lampu lalu lintas Bondowoso, sekaligus membuka donasi daring dari masyarakat di berbagai daerah.
Pada 9 Desember 2025, delapan relawan pertama diberangkatkan ke Kabupaten Aceh Tamiang.
Mereka mendirikan posko awal di depan RSUD Tamiang, sekaligus bergabung dengan Lapak Makan Dhuafa Bandung untuk mengoperasikan dapur umum.
Dari dapur umum tersebut, sekitar 3.000 bungkus nasi diproduksi dan didistribusikan kepada warga terdampak banjir di sekitar Desa Kesehatan, Kecamatan Karang Baru.
Bantuan makanan menjadi kebutuhan paling mendesak, mengingat banjir besar telah melumpuhkan aktivitas warga dan memutus akses logistik.
Banjir Aceh Tamiang tercatat sebagai salah satu yang terparah.
RSUD Tamiang terendam hingga delapan meter selama tiga hari, menyebabkan layanan kesehatan lumpuh total.
Kondisi ini memperparah penderitaan warga, terutama kelompok rentan.
Leader Makelar Akherat Bondowoso, dr. Yusdeny Lanasakti, Sp.PD, mengungkapkan tantangan terbesar yang dihadapi relawan dan warga adalah krisis air bersih.
“Kendala terberat adalah tidak adanya air bersih. Selama kurang lebih delapan hari, banyak warga tidak bisa mandi,” ujarnya.
Selain membantu operasional dapur umum, relawan juga terlibat dalam pemulihan akses air bersih dan distribusi bantuan logistik.
Makelar Akherat membangun kolaborasi luas dengan berbagai komunitas relawan dari seluruh Indonesia.
Resource Development Makelar Akherat, Yanuar Harry Pratama, menyebut kerja sama dilakukan dengan banyak pihak, diantaranya Lapak Makan Dhuafa Bandung, Komunitas Kopi Medan, Toyota Land Cruiser Medan, IOF Sumatera Utara, serta Irbox dan Warga Jaga Bumi. Dari hasil penggalangan dana jalanan dan donasi daring, Makelar Akherat berhasil menghimpun lebih dari Rp 500 juta.
Seiring melimpahnya logistik di posko awal, pada 27 Desember 2025 pusat kegiatan dipindahkan ke Dusun Rantau Bintang, Kecamatan Bandar Pusaka, wilayah hulu sungai dengan tingkat kerusakan paling parah.
Di kawasan ini, ketinggian banjir mencapai hingga 12 meter, bahkan sejumlah dusun tertimbun kayu dan material banjir.
Di posko kedua, relawan menjalankan berbagai program pemulihan, mulai dari pipanisasi air bersih, pembersihan sumur, penerangan rumah, distribusi logistik, hingga bantuan mesin senso, mesin sedot air, genset, dapur umum, santunan warga, tabung LPG, alat masak, Al-Qur’an, dan tandon air.
Yanuar juga menceritakan pengalaman ekstrem para relawan.
Di posko pertama, dr. Yusdeny bersama tujuh relawan lainnya tidak mandi selama delapan hari dan tidak buang air besar selama tiga hari awal akibat krisis air bersih.
Di wilayah Tenggulun, warga akhirnya bisa kembali menghubungi keluarga setelah dua pekan tanpa sinyal, berkat bantuan genset dan Starlink yang dibawa relawan.
Sementara di posko kedua di Rantau Bintang, relawan tinggal di rumah warga. Ikatan emosional pun terbangun kuat.
“Saat kami pamit pulang, semua warga menangis. Ikatan emosi terasa sangat kuat selama dua minggu kami disana,” pungkasnya. (ham/fid)
Editor : Adeapryanis