CERMEE, Radar Ijen - Ribuan jamaah memadati kompleks Pondok Pesantren Nurut Taqwa Cermee, Jumat (9/1) malam.
Mereka datang dari kalangan santri, wali santri, hingga simpatisan untuk mengikuti haul masyaikh sekaligus momentum Hari Ulang Tahun (HUT) ke-50 pesantren tersebut.
Sejumlah ulama dan tokoh penting turut hadir. Di antaranya Kasubdit III Jatanras Ditreskrimum Polda Jatim AKBP Arbaridi Jumhur beserta jajaran, yang tampak larut dalam rangkaian acara hingga doa penutup.
Meski gerimis sempat mengguyur, jamaah bertahan khidmat dari awal hingga akhir acara. Nuansa spiritual menguat ketika nama-nama masyaikh disebut dan doa dilantunkan.
Pengasuh Pondok Pesantren Nurut Taqwa, KH Nawawi Maksum menegaskan, usia 50 tahun adalah perjalanan panjang penuh lika-liku.
“50 tahun usia yang kalau untuk manusia, sudah masuk kategori sepuh, matang, dan penuh cerita,” ujarnya.
Ia menambahkan, pondok ini dibangun dari ketekunan pendirinya, Almagfurlah KH Ma’shum Zainullah, yang menanamkan fondasi iman dan ilmu tanpa lelah.
“Kita kirimkan doa terbaik untuk beliau dan para Masyaikh yang telah menanamkan iman, ilmu, dan akhlak yang sampai sekarang masih dipanen oleh para santri,” katanya.
Dalam tausiyahnya, Gus Nawawi mengingatkan bahwa perjuangan menjaga akidah umat tidak boleh terputus.
“Dulu Kiai Ma’shum berjuang menjaga keamanan akidah umat di Bondowoso ini. Dan kini dan hingga nanti perjuangan, InsyaAllah perjuangan ini akan terus berlanjut,” tegasnya.
Doa untuk Sumatera dan Aceh menjadi penutup yang menggugah. Selain sebagai bentuk simpati, menurut KH Nawawi, langkah itu adalah wujud solidaritas atas musibah yang merenggut korban jiwa dan merusak ribuan rumah.
“Karena mereka adalah saudara kita. Saudara seiman dan saudara sebangsa dan setanah air. Semoga segala aktivitas sosial, ekonomi dan agama di sana bisa kembali normal bahkan lebih baik dari sebelumnya,” harapnya.
Kasubdit III Jatanras Ditreskrimum Polda Jatim, AKBP Arbaridi Jumhur yang turut hadir, memberikan apresiasi atas kepedulian pesantren.
Ia menyebut keberadaan santri sangat strategis di tengah perubahan sosial. Menurutnya, pesantren menjadi benteng moral bagi remaja. “Dari pagi sampai malam kan terarah (hidupnya, red),” pungkasnya. (ham)
Editor : M. Ainul Budi