Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Penutupan Kalipait Gara-gara Sampah? DPRD Bondowoso Minta Benahi Tata Kelola Sampah Dahulu, Segera Rembuk Pecahkan Masalah Sampah

Faqih Humaini • Jumat, 2 Januari 2026 | 17:05 WIB

 

TERBATAS: Kawasan Kalipait sementara ini ditutup untuk pengunjung, karena fasilitas pendukungnya belum lengkap.
TERBATAS: Kawasan Kalipait sementara ini ditutup untuk pengunjung, karena fasilitas pendukungnya belum lengkap.

RADAR JEMBER - PENUTUPAN Kalipait akibat persoalan sampah menuai sorotan dari legislatif.

DPRD Bondowoso menilai menilai kebijakan tersebut menunjukkan bahwa persoalan lingkungan, khususnya sampah, belum dikelola secara serius dan sistematis, padahal Kalipait merupakan destinasi strategis di kawasan Ijen Geopark yang menjadi wajah pariwisata Bondowoso.

Wakil Ketua DPRD Bondowoso Sinung Sudrajad menjelaskan, pemkab Bondowoso dan BKSDA wilayah III provinsi Jatim harus segera rembuk bersama.

“Kami tentu sangat prihatin sampai terjadi penutupan wisata Kalipait hanya gara-gara persoalan sampah. Seharusnya, masalah sampah ini tidak patut dijadikan kendala utama di destinasi wisata, apalagi Kalipait itu sentral destinasi wisata Bondowoso di kawasan Ijen,” ujar Sinung.

Ia menegaskan, pengelolaan sampah semestinya disiapkan terlebih dahulu sebelum sebuah destinasi wisata dioperasionalkan.

Terlebih pada tahun ini, Bondowoso akan menghadapi agenda penting revalidasi UNESCO Global Geopark (UGG) Ijen yang menuntut kesiapan tata kelola lingkungan secara menyeluruh dan berkelanjutan.

Sinung juga menilai persoalan sampah di Bondowoso tidak berdiri sendiri, melainkan menjadi gambaran umum belum seriusnya kebijakan pengelolaan sampah daerah.

Kondisi TPA Taman Krocok yang sudah mendapatkan kartu merah dan tidak lagi bisa dioperasionalkan disebutnya sebagai sinyal kuat adanya persoalan struktural yang belum tertangani dengan baik.

Di sisi lain, Sinung menyoroti keberadaan komunitas pengelola sampah Sarkaspace yang dinilainya memiliki kapasitas dan pengalaman mumpuni.

Komunitas tersebut, kata dia, telah terbukti mampu mengelola sampah, khususnya sampah organik, melalui pola kerja yang diterapkan di basecamp mereka di Kademangan.

Menurut Sinung, Sarkaspace bahkan pernah mendorong pemilahan sampah sejak awal antara sampah organik dan nonorganik.

Jika pola ini diterapkan dan komunitas dilibatkan secara langsung, ia meyakini persoalan sampah di destinasi wisata tidak akan menjadi masalah besar yang berujung pada penutupan kawasan.

Ia juga menyayangkan minimnya apresiasi pemerintah daerah terhadap Sarkaspace, padahal komunitas tersebut pernah mendapatkan penghargaan dari Telkom dan membawa nama baik Bondowoso dalam pengelolaan sampah di tingkat nasional dengan peserta lebih dari 2.000 orang dari seluruh Indonesia.

Karena itu, Sinung mendesak Pemkab Bondowoso bersama BKSDA agar segera merembuk persoalan ini secara serius dan substantif, bukan sekadar formalitas rapat.

Ia meminta sistem tata kelola sampah dimatangkan terlebih dahulu dengan melibatkan komunitas dan masyarakat, sehingga destinasi wisata Kalipait dapat segera dibuka kembali dan dikelola secara lebih bertanggung jawab. (faq/bud)

 

Editor : M. Ainul Budi
#DPRD #kalipait #Ijen #Bondowoso