RADAR JEMBER - Dua ribu pohon ditanam di Desa Sumbersalak, Kecamatan Curahdami.
Aksi yang digelar BPBD Bondowoso bersama Komunitas Bondowoyo itu, bukan seremonial hijau di penghujung tahun, melainkan respons konkret atas ratusan bencana yang terus mengepung kabupaten berjuluk Kota Tape ini.
Lokasi penanaman dipilih bukan tanpa alasan.
Pada Maret 2025, Sumbersalak yang berada di kaki Gunung Argopuro dihajar banjir bandang usai hujan deras di lereng.
Air bah membawa ranting, kayu, lumpur, dan material vegetasi yang menyapu permukiman, merusak rumah serta fasilitas umum.
Jejak kerusakan masih membekas, jadi pengingat bahwa mitigasi tak boleh menunggu musim berganti.
Penanaman simbolis dihadiri langsung Sekretaris Daerah Bondowoso, Fathur Rozi.
Ia menegaskan, pohon adalah tameng alami sekaligus investasi masa depan.
Menanam pohon juga dianggap investasi jangka panjang, bagi generasi mendatang.
“Bisa menyediakan oksigen, lingkungan yang asri,” ujarnya.
Pria yang akrab disapa Rozi itu menyebut, Bondowoso butuh pohon yang bekerja ganda, menahan air dan memberi nilai ekonomi.
Oleh sebab itu, pohon nangka jadi salah satu pilihan.
“Intinya pohon yang mampu menahan, yang bisa menyerap air,” imbuhnya.
Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Bondowoso, Yuliono Triandana, menyebut kolaborasi dengan komunitas menunjukkan kesadaran bahwa mitigasi bukan monopoli pemerintah.
“Memang ada pentahelix, jadi ada masyarakat,” katanya.
Kesadaran itu muncul di tengah situasi yang genting.
BMKG memprediksi peningkatan cuaca ekstrem hingga 31 Desember 2025, dipicu oleh Monsun Asia dan bibit siklon tropis 93S di Samudera Hindia.
Hujan deras dan angin kencang mulai rutin menyapa.
“Dampaknya terhadap cuaca sangat terasa. Seperti intensitas hujan yang cukup deras, angin juga,” ujarnya.
Sumbersalak hanyalah satu potret kecil dari lanskap besar kebencanaan Bondowoso.
Penanaman 2.000 pohon menjadi sinyal perubahan pendekatan, dari reaktif ke preventif.
Pohon tak akan menahan banjir jika kewaspadaan tak ikut ditanam di kepala warga. (ham/fid)
Editor : Adeapryanis