WRINGIN, Radar Ijen - Bau kompos dan segarnya daun trembesi mengantar langkah ke Ponpes Ra’iyatul Husnan, Wringin, Bondowoso. Di balik tembok asrama KH Saiful Haq, ada cerita lain selain kitab dan doa.
Gerakan ekologis yang lahir dari tangan-tangan santri, yang kini menggaung hingga Surabaya dan berbuah penghargaan bergengsi Eco Pesantren 2025 dari Pemprov Jatim.
Pintu masuk pendopo kecil pesantren itu tak dihiasi karpet merah, melainkan barisan tong pilah sampah tiga warna, kebun organik, dan ratusan bibit pohon yang disusun rapi.
Di sini, rapor santri bukan hanya hafalan, tapi juga jejak karbon yang makin ringan setiap hari. Kerja lingkungan di Ponpes Ra’iyatul Husnan bukan agenda musiman.
Hal tersebut merupakan rutinitas. Ada bank sampah internal, kebun obat keluarga (toga), lubang biopori di setiap sudut, hingga dapur santri yang 100 persen memanfaatkan gas ramah lingkungan.
Kemandirian hijau itu yang membuat pesantren ini menonjol di antara ratusan pondok lain di Jawa Timur.
Mewakili pengasuh, Gus Muhammad Hasanil Bulgiah menyebut capaian ini bukan prestasi segelintir orang, melainkan hasil kerja kolektif ribuan tangan kecil yang bergerak setiap hari.
“Penghargaan ini menjadi penyemangat bagi kami, untuk terus menanamkan kepedulian terhadap lingkungan kepada para santri. Menjaga alam adalah bagian dari ajaran Islam dan menjadi tanggung jawab bersama,” ujar Gus Belgi.
Kesadaran itu diterjemahkan ke aksi nyata lewat kolaborasi strategis dengan Sarka Space, komunitas lingkungan yang konsisten bergerak di isu sampah dan edukasi ekologis di Bondowoso.
Dari kerja sama itu, santri tak hanya diajari teori, tapi praktik memegang langsung, memilah langsung, dan memanfaatkan ulang langsung.
“Melalui kerja sama ini, santri dibimbing untuk memilah sampah sejak dari sumbernya, sehingga sampah memiliki nilai guna dan tidak mencemari lingkungan,” jelasnya.
Model pendidikan lingkungan di pesantren ini bahkan mulai menjadi kultur baru. Sampah plastik yang dulu dibuang kini dikumpulkan, disortir, dan ditransformasikan.
Daun kering jadi kompos. Botol bekas jadi pot. Kardus jadi bahan kreasi. Semua punya siklus kedua. Gus Belgi ingin agar siklus itu tak berhenti di pondok.
“Saya berharap kebiasaan baik tersebut dapat terus diterapkan oleh santri ketika kembali ke tengah masyarakat,” paparnya.
Kabid Lingkungan Hidup dan Keanekaragaman Hayati DLH Bondowoso, Syahrial Fary, menyebut pesantren sebagai ruang strategis membentuk karakter ekologis generasi muda.
“Pesantren ini layak menerima penghargaan Eco Pesantren karena konsisten menerapkan pengelolaan lingkungan yang baik, mulai dari kebersihan, pengelolaan sampah, hingga penanaman nilai cinta lingkungan kepada santri,” ungkapnya.
Menurutnya, dampak dari kesadaran ekologis di lingkungan pendidikan berbasis agama jauh lebih panjang daripada sekadar bersih-bersih.
“Pesantren memiliki peran strategis dalam membentuk karakter generasi muda. Jika kesadaran lingkungan ditanamkan sejak dini, dampaknya akan sangat besar bagi keberlanjutan lingkungan ke depan,” pungkasnya. (ham)
Editor : M. Ainul Budi