RADAR JEMBER – Keberadaan luwak di wilayah lereng Ijen selama ini dikenal sebagai tantangan bagi petani kopi.
Hewan pemakan buah kopi itu kerap dianggap hama karena memilih buah merah terbaik—buah yang justru paling berharga untuk dipanen.
Namun di Kampung Kopi Kluncing, paradigma itu berubah.
Luwak yang dulu diburu kini justru dipelihara dan dijadikan penggerak ekonomi melalui budidaya kopi luwak sekaligus objek wisata edukasi.
Salah satu wisatawan asal Ajung, Jember, Hisyam Nugroho menjelaskan, wisatawan tidak hanya melihat luwak secara langsung, tetapi juga mempelajari bagaimana hewan itu berperan penting dalam menghasilkan kopi dengan nilai jual tinggi.
"pengunjung biasanya memulai kunjungan dengan belajar memetik kopi, sebelum diarahkan melihat aktivitas luwak dalam proses pencernaan yang menjadi inti terbentuknya kopi luwak," katanya.
Di lokasi penangkaran terdapat sekitar 20 ekor luwak yang dirawat dengan standar kesehatan dan pakan terkontrol.
Para pengelola menekankan bahwa pemeliharaan dilakukan dengan pendekatan kesejahteraan hewan, agar luwak tetap sehat dan menghasilkan biji kopi berkualitas.
Mereka juga mengedukasi wisatawan mengenai pentingnya memperlakukan satwa dengan benar, terutama dalam konsep penangkaran berkelanjutan.
Musim panen menjadi momen paling sibuk. Dalam satu hari, puluhan kilogram kopi luwak bisa dihasilkan dari proses alami hewan tersebut.
Meski begitu, pengelola tetap menekankan kualitas, bukan kuantitas.
Fermentasi dalam pencernaan luwak membuat biji kopi menjadi lebih halus, rendah keasaman, dan memiliki karakter rasa yang tidak dapat ditiru oleh mekanisme buatan.
Proses setelah panen pun tidak kalah menarik.
Biji kopi yang keluar bersama kotoran luwak dibersihkan secara teliti, dijemur selama lebih dari seminggu, lalu disangrai dengan teknik khusus untuk mempertahankan aroma khasnya.
Seluruh proses ini menjadi bagian dari atraksi edukasi yang membuat pengunjung memahami mengapa kopi luwak menjadi salah satu komoditas kopi termahal di dunia.
Hisyam mengaku terkesan dengan pendekatan edukasi yang diberikan pengelola.
Baginya, melihat luwak dan proses kopi luwak secara langsung membuka wawasan baru tentang dunia kopi.
“Ternyata prosesnya panjang dan benar-benar detail. Ini memberikan pengalaman berbeda dibanding sekadar meminum kopinya,” ungkapnya. (faq/fid)
Editor : Adeapryanis