MAESAN, Radar Ijen – Program Bantuan Langsung Tunai Sementara Kesejahteraan Rakyat (BLTS Kesra) dari pemerintah pusat kembali menuai sorotan di Bondowoso.
Dari 38.142 warga yang ditetapkan sebagai penerima, tak sedikit yang dinilai tidak tepat sasaran.
Ironisnya, warga yang tergolong mampu justru masuk daftar, sementara mereka yang hidup dalam keterbatasan terlewat begitu saja.
Potret paling nyata tampak di Desa Sumberanyar, Kecamatan Maesan.
Di sana, seorang perempuan lanjut usia bernama Misjani (60) hanya bisa menerima kenyataan, namanya tidak tercantum sebagai penerima BLTS Kesra, padahal kondisinya jauh dari kata layak.
Misjani tinggal di sebuah rumah bambu yang tampak rapuh.
Atap anyaman dan dinding bilik yang bolong di sana-sini seolah memperlihatkan kemiskinan yang tak pernah benar-benar disentuh bantuan pemerintah.
Hidup sebatang kara, ia menanggung dua keponakan yang diasuhnya sejak kecil.
“Rumahnya saja bisa jadi bukti siapa yang layak. Tapi yang menerima justru orang yang punya lahan luas dan sawah banyak,” ujar Nandari, kerabat Misjani.
Menurutnya, kehidupan Misjani sangat memprihatinkan. Sehari-hari ia bekerja serabutan, mengambil pekerjaan apa saja yang bisa menghasilkan uang.
Jika musim tembakau tiba, Misjani bekerja sebagai buruh pabrik.
Tidak ada kepastian penghasilan, tidak ada suami yang menanggung beban hidup, dan tidak ada bantuan pemerintah yang pernah durung-durung tiba.
“Dulu rumahnya pernah didata untuk program bedah rumah. Difoto, dicata, tapi sampai sekarang tidak ada kabarnya,” imbuhnya.
Bandingkan dengan salah satu tetangga Misjani yang tercatat sebagai penerima BLT. Warga tersebut memiliki rumah permanen dan beberapa petak sawah. Warga sekitar menyebutnya tergolong mampu.
Kondisi ini membuat masyarakat mempertanyakan akurasi data penerima BLTS Kesra. Mereka berharap pemerintah daerah segera melakukan verifikasi ulang agar bantuan benar-benar menyentuh warga yang membutuhkan.
“Kasihan warga seperti mbah Misjani. Dia jelas lebih layak. Semoga ke depan bantuan lebih tepat sasaran,” pungkasnya. (ham/bud)
Editor : M. Ainul Budi