DABASAH, Radar Ijen – Sejumlah warga binaan pemasyarakatan (WBP) Lapas Klas II B Bondowoso mendapat bekal keterampilan baru. mereka dilatih budidaya kecambah (toge) menggunakan kacang hijau, kemarin (20/11).
Hal tersebut dapat menjadi bekal usaha dengan modal yang minim, namun hasilnya bisa melimpah.
Pelatihan ini menjadi bagian dari pembinaan kemandirian WBP agar setelah bebas mampu memilih pekerjaan yang bisa dijalankan secara mandiri.Pelatihnya langsung dari praktisi, Owner Sayur Mulya Market, Hary Prestiawan.
“Semakin banyak skill yang mereka kuasai, semakin mudah beradaptasi saat kembali ke masyarakat,” terang Mamat Trono, Kasi Binadik Giatja Lapas Bondowoso.
Pria yang akrab disapa Mamat itu menegaskan, pelatihan tersebut bukan sekadar teori. Lapas berencana mencoba budidaya kecambah secara mandiri karena prosesnya tidak membutuhkan lahan luas. Jika berhasil, hasil panennya akan langsung dibeli oleh pemateri.
“Yang mengajar ini mengaku sanggup menampung hasil budidaya,” ujarnya.
Selama ini Lapas Bondowoso sudah menjalankan berbagai aktivitas pertanian mulai dari terong, selada, kangkung, hingga cabai. Program budidaya toge ini dinilai selaras dengan upaya mendukung ketahanan pangan.
Sementara itu, Kasubsi Giatja, Denny Dwi Jaya menjelaskan tantangan utama budidaya kecambah adalah proses penyiraman yang idealnya dilakukan tiap dua jam selama dua hari. Padahal, WBP sudah harus masuk blok pada pukul 17.00 WIB.
Karena itu pelatihan diberikan kepada warga binaan yang masa hukumannya hampir habis dan berpotensi diberi tugas khusus.
“Jika diizinkan produksi, harus ada dua sampai tiga orang yang standby menyiram dua jam sekali,” jelasnya.
Pelatih, Hary Prestiawan, menyebut budidaya toge sangat potensial. Modal 1 kilogram kacang hijau impor senilai Rp 25 ribu bisa menghasilkan 6 hingga 7 kilogram toge.
Dengan harga jual Rp10 ribu per kilogram, omzetnya bisa mencapai Rp 60 hingga 70 ribu. “Pembuatan toge itu kelihatannya sepele, tapi kalau ditekuni hasilnya besar,” imbuhnya.
Terlebih kebutuhan toge makin banyak, menyusul adanya program Makan Bergizi Gratis (MBG). Kebutuhan barang tersebut dianggap cukup besar.
Media yang dibutuhkan pun sederhana, hanya ember atau timba yang dilubangi.
“Tata cara pembuatannya tidak rumit. Yang penting telaten. Butuh disiram dua jam sekali agar lembab,” tambahnya.
Panen bisa dilakukan setiap tiga hari sehingga perputaran modal sangat cepat. Hary berharap pelatihan ini bisa menjadi motivasi bagi WBP untuk memulai usaha mandiri setelah kembali ke masyarakat. “Kalau Lapas mengizinkan produksi, semua alat dan bahan saya siap bantu. Gratis,” pungkasnya. (ham)
Editor : M. Ainul Budi