Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Miliki Beras Kualitas Premium Lombok Kulon Luncurkan Produk Bermerk, Ini Pesan Wabup Bondowoso

Ilham Wahyudi • Sabtu, 22 November 2025 | 11:22 WIB

Wakil Bupati Bondowoso As’ad Yahya Syafi’i
Wakil Bupati Bondowoso As’ad Yahya Syafi’i

radarjember.id - Dikenal sebagai penghasil beras organik, Desa Lombok Kulon, Kecamatan Wonosari, resmi meluncurkan produk beras premium “Cap Lombok” sebagai unit usaha terbaru BUMDesa Citra Abadi.

Produk tersebut diharapkan menjadi motor penggerak ekonomi desa sekaligus memperkuat ketahanan pangan berbasis potensi lokal.

Kepala Desa Lombok Kulon menjelaskan bahwa peluncuran produk “Cap Lombok” sejalan dengan arah penggunaan Dana Desa yang fokus pada infrastruktur, peningkatan SDM, dan penguatan ekonomi desa.

Pihaknya juga menjalin kerja sama dengan Dinas Pertanian untuk memperluas lahan pertanian organik hingga 40 hektar pada 2026.

“Kami menargetkan diri menjadi desa mandiri berbasis pertanian organik, sekaligus motor penggerak ekonomi lokal di Bondowoso,” katanya. 

Lombok Kulon diakui sebagai sentra beras organik premium.

Hal itu dibenarkan oleh Wakil Bupati Bondowoso As’ad Yahya Syafi’i.

Menurutnya, desa itu sudah lama dikenal sebagai penghasil beras organik berkualitas tinggi, selain berbagai hasil pertanian non kimia lainnya.

“Banyak produk pertanian dari sini benar-benar murni dari alam, tanpa bahan kimia, sehingga kualitasnya premium dan banyak dicari,” ujarnya.

Ia menilai produk organik Lombok Kulon memiliki prospek besar jika dipasarkan dengan strategi yang lebih agresif.

Karena itu, pemerintah desa diminta memperluas pemasaran hingga skala nasional bahkan global.

“Tinggal ditingkatkan marketing dan promosinya. Harapannya produk ini tidak hanya terjual di daerah saja, tetapi bisa go internasional,” tegasnya.

Wabup juga menyinggung tantangan fiskal daerah.

Ia menyebut APBD Bondowoso yang sebelumnya di atas Rp 2 triliun kini turun menjadi sekitar Rp1,8 triliun akibat efisiensi anggaran nasional.

“Karena itu kami berharap desa mulai mempersiapkan diri untuk mandiri,” imbuhnya.

Namun ia menegaskan bahwa kemandirian desa bukan berarti pemerintah daerah melepas tanggung jawab.

Justru desa mandiri, menurutnya, akan menjadi contoh dan mampu membantu desa-desa lain di sekitarnya.

“Desa yang mandiri menjadi desa istimewa, berdampak pada kesejahteraan warganya, bahkan bisa memberi support kepada desa lain,” tegasnya.

Ia juga mengingatkan perlunya evaluasi dan pendampingan berkelanjutan dari dinas terkait agar program desa tidak berhenti pada seremonial belaka.

“Harus dievaluasi, dikembangkan, dan didampingi agar betul-betul sukses,” pungkasnya. (ham/fid)

Editor : Adeapryanis
#beras premium #Bondowoso