WONOSARI, Radar Ijen - Di sudut Desa Wonosari, Kecamatan Wonosari, Bondowoso, suasana rumah sederhana berubah menjadi ruang penuh warna.
Aroma malam batik, suara kuas meresap ke kain, dan percikan kreativitas menyatu menjadi denyut harian.
Di situlah M Hariyanto (38) guru olahraga PPPK di SMPN 1 Sukosari menemukan dunia barunya. Dunia yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya, yakni membatik.
Siapa sangka, pandemi Covid-19 yang memaksa sekolah-sekolah beralih ke pembelajaran virtual, justru membuka jalan bagi pria yang akrab disapa Hari itu, untuk merintis usaha.
Saat aktivitas mengajar menurun, ia dan istrinya.
Keduanya masih berstatus honorer kala itu, mencari cara untuk menambah pendapatan keluarga.
Ingatannya lalu melayang pada kebiasaan lamanya di SMPN 5 Bondowoso, tempat ia sering mengikuti praktik batik.
Dengan modal nekat dan ingatan atas teknik dasar, ia mulai membuat batik tulis. Karya pertamanya diunggah ke media sosial. Responsnya tak disangka.
“Kok banyak yang antusias, ya terus,” ujarnya.
Dari unggahan sederhana itu, perjalanan baru dimulai. Tahun 2021 menjadi titik balik. Pesanan datang semakin sering. Hari lalu diajak temannya yang bekerja di Diskoperindag, untuk bergabung dengan paguyuban batik Bondowoso.
Di komunitas itu ia menemukan atmosfer belajar baru, penuh diskusi teknik, saling koreksi motif, hingga obrolan tentang tren warna. “Ditarik ke grup paguyuban, ya disitulah mulai berkembang,” tuturnya.
Diskoperindag memberi dukungan lebih, peralatan membatik hingga dorongan untuk mengurus izin usaha.
Dari ruang rumahnya, lahirlah Wonokasih House of Batik. Hari tak hanya membuat batik tulis dan batik cap.
Kini pesanan terbanyak datang dari batik kontemporer, jenis batik yang lebih bebas, tanpa pakem motif kaku, sehingga ia bisa bermain warna dan bentuk sesukanya. “Orang cenderung memilih seperti ini (batik kontemporer, red),” jelas bapak satu anak itu.
Harganya beragam. Standar paguyuban menetapkan yang termurah Rp 135 ribu. Batik kontemporernya berkisar Rp 180 ribu hingga Rp 225 ribu. Sementara batik tulisnya mulai Rp 225 ribu. “Pernah itu paling maksimal satu kali proses batik tulis harganya Rp 450 ribu,” ungkapnya.
Pesanan datang dari guru, tenaga kesehatan, hingga tamu dari luar kota. Bahkan pengiriman sudah menembus Madura hingga Kalimantan. Kadang hanya satu kain, kadang puluhan.
“Produksi tergantung pesanan, kemarin itu 90 potong,” ucapnya bangga.
Meski permintaan terus naik, Hari belum mau menjual lewat marketplace. Alasannya sederhana: ia takut kewalahan. Di rumah, ia masih menjadi pembimbing bagi tiga pekerja. Semua diajari dari nol. “Takut pesanan membludak. Saya juga mengajar, mbaknya kerja,” katanya.
Promosi pun hanya dari mulut ke mulut. Justru dari jalur itu, pesanan tak pernah sepi.
Di balik aktivitas membatiknya, Hari menyimpan harapan yang lebih besar. Ia ingin pemerintah daerah kembali menghidupkan aturan penggunaan batik Bondowoso seperti dulu. “Sekarang kan masih rancu, bergesernya waktu, akhirnya tak ada lagi,” jelasnya.
Baginya, batik bukan hanya kain. Itu merupakan identitas dan kebanggaan. Nama Wonokasih pun bukan dipilih sembarangan.
Wono berarti hutan, kasih berarti kebaikan. Hari ingin usahanya tumbuh seperti hutan yang rimbun dan meneduhkan. (ham/bud)
Editor : M. Ainul Budi