radarjember.id – Gerakan tanam perdana kopi Arabika di kawasan Ijen, Bondowoso, tak sekadar menjadi kegiatan pertanian biasa.
Langkah ini dinilai sebagai investasi jangka panjang yang mampu menggerakkan ekonomi masyarakat sekitar dan memperkuat ketahanan ekonomi daerah berbasis perkebunan.
Thomas Evaluanto Nugroho pengurus pleno Serikat Pekerja Perkebunan Nusantara (SP-BUN) PTPN 12 menyebutkan, kegiatan tanam perdana di kawasan Jampit dan Blawan merupakan langkah strategis dalam membangun investasi berkelanjutan.
“Program ini tidak hanya memperluas usaha, tapi juga meningkatkan kesejahteraan. Ada sekitar 3.000 pekerja yang terlibat langsung, baik dari internal kebun maupun masyarakat sekitar,” ujarnya.
Ia menegaskan, keterlibatan masyarakat tidak bersifat simbolis.
Warga dilibatkan dalam seluruh tahapan produksi, mulai dari pengelolaan tanaman, perawatan rutin, hingga panen.
“Dengan pola ini, ekonomi berputar di sekitar masyarakat. Ketika perusahaan tumbuh, warga juga ikut menikmati hasilnya,” tambahnya.
Sementara itu, SEVP Operation PTPN I Regional 5 Asep Sontani menjelaskan, kolaborasi antara PTPN I dan PTPN IV dalam skema kerja sama operasional (KSO) Arabica Coffee Estate merupakan bentuk integrasi bisnis modern yang bertujuan meningkatkan efisiensi dan kualitas.
“Dengan KSO ini, kita satukan kekuatan on farm dan off farm agar kinerja meningkat. Harapannya, manfaatnya bisa dirasakan tidak hanya oleh perusahaan, tapi juga oleh semua stakeholder, terutama masyarakat Ijen,” jelasnya.
Asep menilai, pengembangan kopi Arabika di Ijen menjadi langkah penting dalam memperkuat daya saing perkebunan di Jatim.
Selain memiliki potensi ekspor tinggi, komoditas ini diprioritaskan karena berdampak langsung pada perekonomian daerah.
“Kami tidak hanya bicara bisnis, tapi juga tanggung jawab sosial dan lingkungan. Semua harus tumbuh bersama,” ujarnya.
Dari sisi sosial, Dewan Penasihat Petani Ijen Berdaulat (PIB) Ustadz Zakaria Muchtar mengingatkan, keberhasilan pembangunan ekonomi di Ijen harus tetap sejalan dengan nilai moral dan keagamaan.
Ia menilai, pelestarian tanaman dan hutan di kawasan tersebut adalah amanah yang harus dijaga.
“Islam melarang kita berbuat kerusakan di bumi. Maka menjaga alam dan tanaman kopi ini juga bagian dari ibadah,” tegasnya.
Zakaria berharap, dengan sinergi antara perusahaan, masyarakat, dan pemerintah, Ijen bisa menjadi contoh bagaimana ekonomi tumbuh tanpa meninggalkan nilai-nilai spiritual dan ekologis.
“Kalau alam dijaga, ekonomi tumbuh, dan masyarakat sejahtera, itu artinya berkah sudah turun di bumi Ijen,” pungkasnya. (faq/fid)
Editor : Adeapryanis