radarjember.id – Upaya pencegahan penyakit mulut dan kuku (PMK) di Kabupaten Bondowoso terus dilakukan secara intensif.
Hingga September 2025, Dinas Peternakan mencatat sebanyak 45.226 dosis vaksin telah diberikan kepada hewan ternak, meliputi sapi, kambing, dan domba.
Kepala Sub Koordinator Kesehatan Masyarakat Veteriner (Kesmavet) Bondowoso, drh. Edi Poernomo, menjelaskan bahwa sejak merebak pada 2022, PMK pernah ditetapkan sebagai wabah darurat nasional. Namun sejak 2023 statusnya berubah menjadi tertular.
“Meski statusnya berubah, kegiatan pencegahan, penanggulangan, dan pengendalian PMK tetap berjalan. Salah satunya dengan vaksinasi rutin,” ujarnya, Senin (15/9).
Tahun ini, Bondowoso mendapat alokasi 51.325 dosis vaksin.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 42.625 dosis bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), sementara 8.700 dosis berasal dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Provinsi. Seluruh vaksin diberikan secara gratis kepada peternak.
Pelaksanaan vaksinasi dilakukan secara door-to-door oleh petugas lapangan yang terdiri dari dokter hewan dan paramedis. Mereka tersebar di lima Pusat Kesehatan Hewan (Puskeswan), yaitu Juradami, Tamanan, Tapen, Pujer, dan Cermin.
Masing-masing Puskeswan memiliki wilayah kerja berbasis kecamatan dengan alokasi vaksin disesuaikan populasi ternak serta ketersediaan tenaga medis.
drh. Edi menambahkan, meski pada awal program sempat muncul penolakan akibat beredarnya desas-desus, kini kesadaran masyarakat semakin meningkat.
Bahkan sebagian peternak kini meminta sendiri agar hewan ternaknya divaksin.
“Kuncinya ada pada sosialisasi. Dengan pengetahuan yang cukup, peternak tidak mudah panik dan bisa cepat melapor jika ada kasus,” terangnya.
Menurutnya, kendala di lapangan tetap ada, mulai dari akses geografis hingga jadwal peternak yang sebagian besar berada di sawah pada siang hari.
Namun, pemerintah menegaskan vaksinasi akan terus digenjot dengan target minimal 80–90 persen populasi ternak tervaksinasi. “Semakin banyak ternak divaksin, semakin kecil risiko penyebaran PMK,” kata drh. Edi.
Ia juga mengimbau masyarakat agar segera melapor jika menemukan gejala PMK pada ternaknya.
“Jangan panik, karena vaksin dan obat-obatan semuanya gratis. Dengan laporan cepat, penanganan bisa segera dilakukan sehingga wabah tidak menyebar lebih luas,” pungkasnya. (mmg2/faq/fid)
Editor : Adeapryanis