radarjember.id - Tidak banyak orang Bondowoso yang tahu, di Kecamatan Prajekan, tersimpan jejak sejarah yang nyaris terlupakan.
Namanya Candi Ghànten. Satu-satunya candi yang pernah ditemukan di Bondowoso.
Temuan terbaru berupa struktur bata di sekitar desa itu kembali mengingatkan publik pada keberadaan candi tersebut.
Bata kuno itu diduga sejaman dengan Candi Ghànten yang berdiri tidak jauh dari lokasi penemuan.
Kasi Sejarah dan Kepurbakalaan Disparbudpora Bondowoso, Heri Kusdaryanto, menyampaikan Candi Ghànten memiliki ciri khas Hindu dengan sentuhan budaya Jawa Timuran.
“Lokasi candi diapit dua sungai, yakni Sungai Sarana dan Sungai Babian,” ujarnya.
Di sekeliling candi terdapat ornamen relief, pahatan medalion, dan bingkai bunga.
Pada pojok bangunan, dulunya ada patung singa dalam posisi duduk dengan kepala terangkat.
Relief di dinding bahkan memuat cerita Garudeya, kisah mitologi Hindu tentang pembebasan dari perbudakan melalui air suci Amerta.
Cerita itu dipercaya menjadi dasar tradisi ruwatan atau selamatan.
Sayangnya, jejak sejarah ini pernah diperlakukan tanpa pengetahuan.
Misadi, juru pelihara Candi Ghànten, mengisahkan bahwa ayahnya yang menemukan candi pada 1983 justru menghancurkan arca karena tidak paham nilainya.
“Separuh badan arca dan potongan lapik arca, yang diduga patung singa itu kemungkinan besar ada di Balai Desa. Sedangkan yang lainnya kemungkinan sudah hancur atau berada di kolektor,” jelasnya.
Ekskavasi baru dilakukan pada 2018 oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Bondowoso bekerja sama dengan Universitas Negeri Malang.
Saat itu ditemukan potongan-potongan arca hasil vandalisme masa lalu. Kemudian pada 2023, kembali ditemukan bata yang diduga kuat pondasi candi.
Kini, pengunjung hanya akan melihat sisa struktur dasar berbentuk segi empat.
Dari situlah dulu relief dan patung singa ditemukan.
Di sekitarnya, cerita mistis terus hidup. Misadi menyebut ada orang yang masih bertapa di bekas ekskavasi, mencari wangsit atau berharap menemukan harta karun.
“Memang ada orang yang bertapa untuk mencari wangsit. Tapi menurut saya memang yang disini mengharap harta karun,” katanya.
Di tengah kisah tragis arca yang hancur dan misteri orang bertapa, harapan tetap ada. Misadi berharap ekskavasi lanjutan yang sudah direncanakan sejak 2019 bisa segera terealisasi.
Karena Candi Ghànten bukan sekadar reruntuhan bata, tapi jejak sejarah yang bisa membuka cerita panjang peradaban Bondowoso di masa lalu. (ham/fid)
Editor : Adeapryanis