Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Wakil Ketua DPRD Bondowoso Ini Launching Buku Bondowoso Negeri Taman Bumi, Ulas Lebih Dalam Jejak Sejarah dan Identitas Lokal

Faqih Humaini • Rabu, 3 September 2025 | 05:06 WIB

 

ASLI BONDOWOSO: Launching buku yang mengulas sejarah dan identitas lokal Bondowoso.
ASLI BONDOWOSO: Launching buku yang mengulas sejarah dan identitas lokal Bondowoso.

SEKAR PUTIH,  Radar Ijen – Buku berjudul Bondowoso Negeri Taman Bumi mulai diperkenalkan melalui soft launching di Kelurahan Sekarputih, Kecamatan Tegalampel, Minggu (31/8).

Karya setebal 460 halaman ini menjadi catatan penting perjalanan sejarah Bondowoso, yang dipandang memiliki peran istimewa dalam peradaban Nusantara.

Buku ini terdiri dari 13 pupuh yang ditulis Lutfi Khoiron, dengan Sinung Sudrajad sebagai penutur kisah utama.

Dalam pemaparannya, Lutfi menekankan bahwa Bondowoso sejak dahulu menjadi titik penting sejarah, dari era kapitayan, kolonial, hingga kemerdekaan.

“Bondowoso ini riwayatnya seperti papan—ditulis, dihapus, lalu ditulis lagi. Sejak dulu, wilayah ini selalu menjadi pusat,” ujarnya.

Lutfi juga memaparkan sejumlah catatan sejarah yang jarang diungkap, seperti letusan Gunung Raung pada 1586, tragedi 11 Maret 1767 yang menewaskan sekitar 80 ribu jiwa, hingga kewajiban Bondowoso menyetor 200 ton beras kepada VOC pada 1771.

Ia bahkan menyebut Bondowoso sebagai asal tokoh besar seperti Sunan Giri dan Arya Wiraraja, serta jejak Patih Gajah Mada yang diyakini pernah menancapkan “paku emas” di wilayah ini.

Lebih jauh, ia menggambarkan Bondowoso sebagai “taman bumi” yang diciptakan Tuhan dengan bentang geologis istimewa.

“Penduduk Bali Age pun asal-usulnya dari Bondowoso. Tuhan menciptakan Bondowoso sebagai taman bumi, sama seperti Ijen Purba dan situs-situs geologi lainnya,” kata Lutfi.

Sementara itu, Sinung Sudrajad menegaskan buku ini hadir sebagai penguat identitas lokal dan jembatan sejarah lintas generasi. Ia mengutip pesan seorang tokoh Estonia, bahwa memutus rantai generasi dengan leluhur adalah cara menghancurkan bangsa. “Buku ini hadir untuk menyambung kembali rantai itu,” ucapnya.

Meski menyadari masih ada kekurangan teknis dalam penyusunan naskah, Sinung menilai hal itu justru menjadi penanda otentisitas karya.

Ia menyebut buku ini lahir dari proses panjang, sekaligus bentuk apresiasi terhadap penulis-penulis Bondowoso terdahulu.

“Bondowoso adalah peradaban pertama di tapal kuda. Banyak seni tradisi, seperti pojien, yang masih menyimpan jejak budaya megalitikum,” tambahnya.

Bondowoso, kata Sinung, telah lama menjadi pusat sejarah sejak tercatat dalam Kakawin Nagarakertagama karya Mpu Prapanca, hingga masa kolonial dan kemerdekaan.

“Dulu Bondowoso dikenal sebagai Taman Jawa. Kini masuk kawasan Geopark Taman Bumi. Sejarah selalu berulang, dan buku ini jadi pengingat agar kita tidak kehilangan jejak,” pungkasnya. (faq/bud)

 

Editor : M. Ainul Budi
#DPRD #Bondowoso