CURAHDAMI, Radar Ijen - Meski tak pernah dibuka untuk jalur pendakian secara resmi, namun Gunung Piramid tak jarang menjadi salah satu jujukan para pendaki illegal. Sebelumnya, gunung itu menelan dua korban jiwa.
Pasca terjatuh akibat terjatuh di medan curam yang disebut Punggung Naga.
Hal tersebut membuat Dinas Pariwisata Kebudayaan Pemuda dan Olahraga (Disparbudpora) Bondowoso, berencana menjadi tempat itu sebagai wisata minat khusus.
Sehingga pengelolaannya akan dilakukan secara profesional, termasuk pemandu gunung atau guide yang akan memandu para pendaki.
Kabid Pariwisata Disparbudpora Bondowoso Yuni Dwi Sri Handayani menjelaskan, untuk menjadikan Gunung Piramid sebagai wisata minat khusus.
Mereka akan bekerjasama dengan Asosiasi Pemandu Gunung Indonesia (APGI), Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) hingga Badan Usaha Milik Desa (Bumdes).
“Dilarang juga masih banyak pendaki illegal,” katanya.
Dia mengaku banyak menemukan aktivitas pendakian di Gunung Piramid. Serta dua gunung lainnya yang berdekatan, yakni Gunung Gul gulan dan Gunung Saeng.
Sebelumnya, pendaki asal Jember ditemukan meninggal dunia pasca terjatuh di Gunung Saeng.
Pengelolaan secara profesional diyakini dapat menekan angka kecelakaan saat pendakian.
Perhutani dan Kecamatan Curahdami sebagai pemangku wilayah, juga akan dilibatkan dalam wacana tersebut.
Jika dikelola secara profesional, maka tak semua orang dapat melakukan pendakian sembarangan, butuh persiapan hingga peralatan yang memadai.
"Kalau PKS (Perjanjian Kerja Sama,red) itu kan harus ada lembaga, nggak tahu apakah nanti koperasi atau karang taruna. Tapi yang di depan itu APGI, " imbuhnya.
Lebih jauh ia menerangkan, mayoritas petugas dan pengelola wisata di Bondowoso saat ini, merupakan pemandu gunung yang sudah berpengalaman.
Namun, untuk mengantisipasi bencana alam seperti longsor dan cuaca ekstrem, pihak desa dan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) dilibatkan dan diajak berkoordinasi dengan BMKG serta aparat keamanan setempat. (ham/bud)
Editor : M. Ainul Budi