Tradisi ini bukan hanya sebatas formalitas. Setiap hari Sabtu dan Rabu, guru dan siswa berkomunikasi menggunakan bahasa Madura secara sopan. Suasana belajar pun terasa lebih akrab dan sarat nilai tata krama. “Ini bukan soal bahasa semata, tapi bagian dari pendidikan karakter dan penghormatan terhadap budaya lokal,” ujar Septyana Agustine, Kepala SDN Sumbersuko 1.
Selain bahasa, anak-anak juga rutin bermain egrang, bekel, bentengan, hingga dakon saat jam istirahat. Tak sedikit yang membawa mainan sendiri dari rumah. “Kami tak punya lapangan bola, tapi kami punya budaya. Permainan tradisional ini jadi cara agar anak-anak tak melulu main handphone,” tuturnya.
Kondisi sekolah yang berada di wilayah pinggiran, dengan jumlah siswa per kelas hanya 5 hingga 6 orang, justru membuat kegiatan budaya ini lebih intens dan menyentuh. Mereka bermain, tertawa, dan belajar dengan cara yang membumi.
Konsep ini tak lahir tiba-tiba. Di bawah program tematik harian, seperti Senin Disiplin, Rabu Berakhlak, hingga Sabtu Berbudaya. SDN Sumbersuko 1 menanamkan nilai-nilai karakter sejak dini.
Hal tersebut menjadi bagian dari efek domino positif dari keberadaan Ijen Geopark. “Festival budaya rutin yang kami adakan berdampak langsung ke sekolah-sekolah. Sekarang lahir sekolah cinta budaya,” kata Youtdan Islami Taufik, Camat Curahdami.
Cara tersebut mendapat dukungan dari Kepala Dinas Pendidikan Bondowoso, Haeriyah Yuliati. Dia turut mengapresiasi langkah SDN Sumbersuko 1 yang mengangkat kearifan lokal sebagai metode pembelajaran. “Bahasa ibu adalah identitas. Kami dukung ini jadi model untuk sekolah lain di Bondowoso,” pungkasnya. (ham/fid)
Editor : Hafid Radar Jember