SEMPOL, Radar Ijen - Pasca tragedi kesalahpahaman antara warga dan anggota TNI di Desa Kaligedang Kecamatan Ijen, Kamis (15/5) lalu.
Warga sekitar sudah dapat kembali beraktivitas seperti biasa, mulai dari bertani hingga berkebun.
Meski demikian, warga tetap berharap ada evaluasi terhadap HGU PTPN 1 Regional 5.
Hal tersebut dikatakan oleh Warga Kaligedang, Erik Widiyanto ketika mengikuti musyawarah bersama antara Forkopimda dan Warga di Kantor Kecamatan Ijen, (19/5).
Dalam pertemuan itu, sejumlah warga menyampaikan keluhan yang dialami warga setempat.
Pria yang akrab disapa Erik itu menegaskan, situasi di Desa Kaligedang sudah mulai kondusif. Dibuktikan dengan warga yang mulai menjalankan aktivitasnya secara normal.
Meski beberapa hari sebelumnya, terdapat insiden salah paham dan percekcokan antara warga dan anggota TNI.
Dia juga berharap, Pemkab Bondowoso serta pihak terkait lainnya, mendengar keluhan dari petani dan warga.
Salah satunya adalah kepastian hukum, untuk tanah yang sedang mereka tempati serta sedang mereka garap.
“Mungkin kalau bisa dicabut lah, hak HGU PTPN itu,” katanya.
Baca Juga: Rawa Indah Almour Kini Terbengkalai, Taman Wisata Hiburan Favorit Masyarakat Bondowoso pada Masanya
Warga juga mengaku tak mengetahui secara pasti, evaluasi dan perpanjangan HGU PTPN 1 Regional 5.
Mereka mengaku tak pernah dilibatkan dalam proses evaluasi. Mereka berharap nasib mereka lebih diperhatikan, apalagi dalam sehari bekerja mereka hanya mendapat upah Rp 40 hingga 45 ribu saja.
Diberitakan sebelumnya, Pasca insiden yang terjadi di Desa Kaligedang Kecamatan Ijen, warga setempat meminta Pemkab Bondowoso hingga Pemprov Jatim turun tangan.
Dalam rangka menyelesaikan persoalan sengketa lahan yang terjadi tempat tersebut.
Menyusul adanya kesalahpahaman antara TNI dan warga beberapa hari lalu.
Mereka secara resmi meminta, Gubernur Jatim dan Bupati Bondowoso mengevaluasi konflik agraria dan melakukan peninjauan, serta penilaian secara komprehensif terhadap sengketa tanah yang terjadi di wilayah tersebut. Sehingga ada solusi untuk menyelesaikan persoalan yang terjadi. (ham)
Editor : M. Ainul Budi