Bondowoso menghadapi tantangan serius dalam penanggulangan HIV. Terutama di kalangan komunitas lelaki seks lelaki (LSL) alias gay.
Berdasarkan data terbaru, dari 729 anggota komunitas LSL, 44 orang telah terkonfirmasi positif HIV.
FAQIH HUMAINI, Radar Ijen
HAL itu menimbulkan kekhawatiran di kalangan masyarakat dan pemangku kebijakan terkait penyebaran virus tersebut. Mayoritas timbulnya penyimpangan itu dilatarbelakangi broken home.
Ketua Pokja TB-HIV Bondowoso Funky Indra Ayu Santi menjelaskan bahwa berbagai faktor sosial berkontribusi pada keterlibatan seseorang dalam komunitas LSL.
salah satunya adalah latar belakang keluarga yang kurang harmonis.
"Paling sering kami temukan yaitu latar belakang keluarga yang broken, sehingga mereka kekurangan kasih sayang dan sosok seorang ayah ataupun ibu," ungkapnya.
Mirisnya, komunitas gay yang sudah berskala nasional kini mulai berkembang pesat di Bondowoso.
Tak hanya itu, para anggotanya juga berasal dari berbagai latar belakang profesi. Termasuk masyarakat umum hingga pegawai instansi pemerintahan.
Rekrutmen anggota dalam komunitas ini disebut berlangsung secara sistematis, dengan pola perekrutan yang cukup masif. Bahkan, mereka yang mencoba keluar dari komunitas dikabarkan mengalami intimidasi hingga ancaman kekerasan.
Situasi ini semakin memperkuat perlunya pendekatan yang lebih efektif dalam edukasi dan pencegahan HIV di Bondowoso. Funky menyebut, cukup sulit dalam melakukan pendekatan terhadap beberapa komunitas tersebut.
Sehingga, perlu berbulan-bulan agar para LSL itu bisa diberikan edukasi secara mendalam.
Bidang edukasi Pokja TB-HIV Bondowoso, Siwin Soleha, menekankan bahwa upaya perubahan perilaku seksual bukanlah hal yang mudah.
Oleh karena itu, diperlukan edukasi yang lebih luas dan sistematis.
"Berharap pemerintah daerah dapat memasifkan informasi melalui media seperti banner dan videotron di tempat strategis, agar masyarakat lebih sadar akan risiko HIV serta cara pencegahannya," katanya.
Menurutnya, beberapa pihak seperti legislatif, eksekutif, maupun lintas sektor mulai serius dalam menyuarakan bahaya seks yang menyimpang. Sehingga, penularan dan angka positif HIV bisa ditekan.
"Kalau terus disuarakan maka masyarakat tahu, bahayanya seperti ini, penanggulangannya seperti ini," pungkasnya. (faq/c2/bud)
Editor : M. Ainul Budi