Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Geliat Hidroponik Besutan Pemuda Asli Wonosari Bondowoso, Dari Halaman Rumah sampai Tawaran Ekspor

Radar Digital • Kamis, 19 September 2024 | 16:05 WIB
HIJAU: Yudha Gusthi Randa memeriksa tanaman-tanaman hidroponik di sebuah greenhouse miliknya. (HILMI/RJ)
HIJAU: Yudha Gusthi Randa memeriksa tanaman-tanaman hidroponik di sebuah greenhouse miliknya. (HILMI/RJ)

Hidroponik menjadi ilmu dan satu jenis metode pertanian modern yang semakin menarik perhatian.

Terutama di kalangan pemuda. Salah satunya adalah seorang pemuda dari Bondowoso, Yudha Gusthi Randa.

Pria asal Desa Sumberkalong, Kecamatan Wonosari, ini sudah sejak tahun 2012 berkomitmen mengembangkan pertanian hidroponik. Seperti apa kisahnya?

Hilmi Baskoro
Sumberkalong, Radar Ijen

SEMBARI merapikan letak sayuran di kebunnya, Yudha menjelaskan bahwa hidroponik mengembangkan kemampuan menanam sayuran menggunakan dengan memanfaatkan air sebagai media tumbuh.

Sehingga lahan yang sebelumnya tidak produktif bisa dikelola menjadi lebih berguna.

"Karena justru tidak pakai tanah, tapi pakai air," ungkapnya.

Mempelajari hidroponik secara autodidak, pemuda ini memanfaatkan tutorial dari platform Youtube sebagai sumber pengetahuan.

Awalnya, Yudha mulai menanam sayuran dan buah dengan peralatan seadanya menggunakan sistem wick.

"Tapi, sebenarnya saya juga menghadapi berbagai tantangan. Terutama dalam hal ketersediaan sarana dan prasarana yang sulit ditemukan di toko pertanian lokal, sehingga harus membelinya secara online," ungkapnya.

Antara tahun 2012 hingga 2014, Yudha mengaku terus belajar meskipun terkendala fasilitas. Setelah fokus menyelesaikan kuliah dan meraih gelar sarjana komputer, pada tahun 2018 ia kembali melanjutkan pengembangan ilmu hidroponik.

"Awalnya pakai lahan kecil di depan rumah. Terus mulai membangun sistem DFT (deep flow technique) dengan biaya dari gaji pertama bekerja di Dinas Komunikasi dan Informatika," ungkapnya.

Dengan tekad dan kerja keras, Yudha kini berhasil meningkatkan produktivitasnya dari 100 hingga 200 lubang tanam.

Pada 2019, bersama para pehobi hidroponik lainnya dia membentuk komunitas petani hidroponik di Bondowoso.

Mereka berdiskusi untuk membangun jaringan dan sistem produksi yang dapat memenuhi permintaan konsumen secara teratur.

"Akhirnya dikasih nama Asosiasi Petani Hidroponik Bondowoso (Astanik), berkat dukungan dari Dinas Pertanian setempat juga," imbuh Yudha.

Pada tahun 2021, ia melanjutkan langkahnya dengan membangun sebuah greenhouse berukuran 11x6 meter persegi, yang mampu menampung 600 lubang tanam sayuran dan 125 lubang tanaman melon dengan sistem hidroponik.

Konsumen dan perusahaan pun berminat bekerja sama dalam menyuplai hasil pertanian hidroponik dari Bondowoso.

"Sudah ada tawaran ekspor, memang. Tapi, sekarang fokus dulu kebutuhan pasar lokal sebelum melangkah lebih jauh," jelasnya.

Dengan dedikasi dan inovasi, Yudha tak hanya memajukan pertanian hidroponik di daerahnya. Namun, juga memberikan harapan bagi pertanian berkelanjutan di Bondowoso. (c2/bud)

 

Editor : Radar Digital
#Hidroponik #Bondowoso