Radar Jember – Di tengah hutan Sumber Canting, Desa Sukorejo, Sumberwringin, Bondowoso, tersembunyi sebuah gua bersejarah yang dikenal sebagai Gua Buta.
Berjarak sekitar 40 km dari pusat Kota Bondowoso, Gua Buta menjadi saksi bisu dari jejak peradaban masa lalu yang penuh misteri.
Lokasinya yang sulit dijangkau dan berada di perbukitan membuat gua ini semakin menarik bagi para peneliti sejarah dan penggemar arkeologi.
Nama "Gua Buta" berasal dari bahasa Madura, "butah," yang berarti raksasa, merujuk pada relief kepala raksasa yang terpahat di mulut gua.
Relief tersebut menunjukkan mata yang terbuka lebar, gigi bertaring, dan lidah menjulur, menciptakan kesan angker dan mistis.
Gua ini berada sekitar 40 km dari pusat Kota Bondowoso, yang dikenal juga sebagai Kota Tape.
Perjalanan menuju situs ini memakan waktu sekitar satu jam dari pusat kota, melalui medan yang cukup menantang dan berbukit.
“Berdasarkan struktur di relief, situs tersebut merupakan peninggalan agama Buddha,” kata Tantri Raras Ayuningtyas, sejarawan dan Ketua Pengurus Harian Ijen Geopark Bondowoso.
Tantri memperkirakan gua ini dibangun pada abad ke-13 atau ke-14, pada masa akhir Kerajaan Majapahit.
Di salah satu dinding gua terdapat pahatan angka 1316 Saka, atau tahun 1394 Masehi. Ini menunjukkan gua tersebut mungkin berasal dari masa akhir Majapahit.
Namun, beberapa ahli meyakini bahwa gua ini mungkin lebih tua, mengingat gaya dan struktur relief yang berbeda dari peninggalan Majapahit pada umumnya.
Gua ini diduga digunakan sebagai tempat meditasi atau pengasingan diri oleh para biksu Buddha, terlihat dari beberapa lubang kecil di dinding gua yang mungkin digunakan untuk meletakkan lentera.
Salah satu keunikan dari Gua Buta adalah adanya relief kepala kala atau raksasa yang dipahat dengan detail yang menakutkan.
Di sekitar relief ini, terdapat pula beberapa pahatan lain yang lebih kecil dengan bentuk yang bervariasi.
Relief-relief ini mengisyaratkan bahwa gua tersebut bukan sekadar cerukan biasa di tebing batu, melainkan memiliki nilai sejarah dan spiritual yang mendalam.
Menariknya, gua serupa juga ditemukan di Desa Jirek Mas, Cermee, Bondowoso. Kedua gua ini memiliki kemiripan dalam struktur dan relief, mengindikasikan bahwa mereka mungkin dibangun pada periode yang sama dan untuk tujuan serupa.
Lokasi yang terpencil dan medan yang sulit dijangkau menunjukkan bahwa gua ini sengaja dipilih sebagai tempat meditasi, jauh dari peradaban.
Selain relief dan ukiran, di sekitar Gua Buta juga terdapat sumber mata air yang terus mengalir sepanjang tahun, meski hanya berupa tetesan kecil.
Keberadaan gua dan situs serupa menunjukkan pentingnya pelestarian warisan budaya ini sebagai bagian dari sejarah dan identitas masyarakat Bondowoso.
Dengan mempertahankan dan memelihara Gua Buta, kita tidak hanya merawat sejarah, tetapi juga menghargai nilai spiritual dan budaya yang diwariskan oleh para leluhur. Situs ini menjadi bukti nyata kekayaan budaya Indonesia yang perlu kita lestarikan.
Editor : Radar Digital