Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Jejak Sejarah Megalitik di Gua Butha Bondowoso, Warisan Budaya Zaman Majapahit yang Tersembunyi di Ijen Geopark

Radar Digital • Jumat, 30 Agustus 2024 | 13:35 WIB
UNIK: Gua Butha Cermee menjadi salah satu bukti peninggalan sejarah yang ada di Desa Jirek Mas. Relief berbentuk wajah besar menjadi keunikan tersendiri.
UNIK: Gua Butha Cermee menjadi salah satu bukti peninggalan sejarah yang ada di Desa Jirek Mas. Relief berbentuk wajah besar menjadi keunikan tersendiri.

Radar Jember - Gua Butha adalah salah satu harta tersembunyi dari masa lalu yang ada di Bondowoso, Jawa Timur.

Tempat ini bukan hanya menjadi saksi bisu dari sejarah panjang peradaban manusia, tetapi juga memiliki nilai budaya yang tak ternilai.

Gua ini dipercaya berasal dari zaman Majapahit, dengan peninggalan yang menunjukkan pengaruh kuat dari agama Buddha, terutama karena fungsinya sebagai tempat meditasi bagi para biksu atau bhikkhu.

Gua Butha dikenal juga sebagai Gua Buta, yang dalam bahasa Madura berarti "raksasa". Nama ini diberikan karena di mulut gua terpahat relief kepala raksasa yang tampak menakutkan, dengan mata terbuka lebar, gigi bertaring, dan lidah yang menjulur.

Gua ini terletak di dua lokasi berbeda: di Desa Sukorejo, Kecamatan Sumber Wringin, dan Desa Jirek Mas, Kecamatan Cermee.

Gua Butha Sumber Canting

Gua Butha di Sumber Canting memiliki relief Kepala Kala yang terkenal dengan ciri khas mata melotot, gigi bertaring, dan lidah menjulur.

Pahatan ini, selain menampilkan karakteristik yang mengesankan, juga memiliki pahatan angka 1316 Saka atau setara dengan tahun 1394 Masehi, menandai waktu pendirian gua tersebut.

Ruang di dalam gua ini memiliki ukuran mulut setinggi 3 meter dan lebar 5 meter. Ruang ini memanjang ke dalam dan makin mengecil hingga mencapai kedalaman sekitar 17 meter.

Pahatan relief ini menjadi bukti nyata bahwa gua ini dulunya digunakan sebagai tempat meditasi atau mengasingkan diri dari dunia luar.

Beberapa lubang kecil di dinding gua dipercaya sebagai tempat untuk menyalakan lilin atau lentera saat ritual meditasi berlangsung.

Gua Butha Cermee

Gua Butha di Cermee juga tidak kalah menarik. Di sini, relief raksasa serupa dipahat di tebing batu.

Selain itu, terdapat relief lainnya yang menunjukkan pengaruh agama Buddha, seperti relief bunga teratai, Buddha bermeditasi, dan beberapa binatang yang terkait dengan ritual keagamaan.

Gua ini berfungsi sebagai tempat bertapa pada akhir zaman Majapahit, sekitar abad ke-13 dan 14.

Lokasi gua ini cukup terpencil, berada di tebing yang curam dan medannya pun menantang. Namun, hal ini semakin memperkuat keyakinan bahwa gua ini digunakan untuk meditasi, karena posisinya yang jauh dari keramaian, memberikan ketenangan bagi para biksu yang bermeditasi di sana.

Kini, Gua Butha menjadi bagian dari Ijen Geopark dan diakui sebagai salah satu situs budaya yang penting. Gua ini dimasukkan dalam sektor keanekaragaman budaya atau Cultural Diversity.

Kawasan ini juga menjadi fokus pengembangan untuk tujuan wisata edukasi, di mana pengunjung bisa belajar tentang sejarah dan budaya masa lampau.

Upaya untuk membuka akses ke gua ini terus dilakukan. Meskipun medan menuju gua masih terjal dan curam, pemerintah setempat telah mulai membuat jalan setapak untuk mempermudah akses wisatawan.

Selain itu, kelompok sadar wisata (pokdarwis) juga aktif dalam memandu pengunjung ke lokasi, memberikan informasi dan pengetahuan tentang gua serta sejarahnya.

Gua Butha, dengan relief-relief uniknya dan lokasinya yang menantang, menjadi daya tarik tersendiri bagi para pecinta sejarah dan budaya.

Tempat ini tidak hanya menawarkan keindahan alam dan nilai sejarah, tetapi juga memberikan pelajaran tentang pentingnya melestarikan warisan budaya nenek moyang kita.

 

Editor : Radar Digital
#Ijen Geopark #Bondowoso