KEMBANG, Radar Ijen – Memasuki pancaroba dari musim hujan ke kemarau, cuaca masih tak menentu. Hingga akhir April 2024, hujan masih kerap turun dengan intensitas cukup tinggi.
Padahal, puncak musim hujan sudah berlalu pada akhir Februari 2024 lalu. Bahkan hampir tiap hari terjadi hujan.
Kabid Kesiapsiagaan dan Pencegahan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bondowoso Yuliono Triandana menerangkan, kondisi musim saat ini belum jelas apakah sudah mencapai pergantian atau belum.
"Karena dari pihak BMKG belum memberikan kepastian terkait itu. Jadi, kami pun belum bisa memastikan," ungkapnya saat ditemui di kantornya.
Namun, Yuliono mengakui intensitas hujan memang sudah berkurang dibanding triwulan pertama lalu. Namun, musim hujan belum dipastikan sudah selesai.
"Karena fenomenanya tidak menentu. Terkadang di Bondowoso sudah kering, di daerah lain masih basah. Padahal biasanya sama siklusnya," paparnya.
Akan tetapi, bukan berarti BPBD tidak mempersiapkan diri menghadapi musim kemarau yang kemungkinan akan datang tak lama lagi. Berkaca pada tahun-tahun sebelumnya, ada beberapa bencana yang paling banyak terjadi saat musim kemarau.
"Biasanya kebakaran hutan dan kekeringan," tuturnya.
Sebagaimana diingat, pada musim kemarau tahun lalu terjadi kebakaran di lereng Gunung Ijen. Yuliono menceritakan, timnya langsung bergegas saat itu, menjelang tengah malam.
"Kalau kekeringan ada bidangnya sendiri yang menangani, ditambah bekerja sama dengan PDAM Bondowoso," tuturnya. (hlb/c2/aro)
Editor : Radar Digital