Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Melihat Hiruk Pikuk Produksi Tape Khas Bondowoso, Singkong Kuning Jadi Penentu

Radar Digital • Rabu, 10 April 2024 | 01:10 WIB
POTENSI LOKAL: Tenaga kerja pembuatan tengah mengolah singkong untuk dijadikan tape.
POTENSI LOKAL: Tenaga kerja pembuatan tengah mengolah singkong untuk dijadikan tape.

TAMANSARI, Radar Ijen – Tape menjadi salah satu produk andalan Bondowoso.

Sejak lama industri tape telah banyak membantu perekonomian masyarakat Bondowoso.

Terutama di dua kecamatan, yakni Kecamatan Binakal dan Wringin. Sebab, keduanya telah ditetapkan sebagai pusat produksi.

Kabid Perindustrian Dinas Koperasi, Perindustrian, dan Perdagangan (Diskoperindag) Bondowoso Agung Nurhidayat mengatakan, memang tahun 2022 lalu industri tape di Bondowoso dikucur dana Rp 2 miliar untuk revitalisasi.

“Untuk tahun 2024 yang tidak ada,” ujarnya.

Namun, Agung mengatakan, hal tersebut tidak mengubah terlalu signifikan jumlah produksi tape per tahunnya.

Bahkan secara keseluruhan bisa mencapai lebih dari 15 ribu ton.

Agung juga mengatakan, produsen tape terkendala pada ketersediaan bahan baku, yaitu singkong.

Walau singkong susah didapat, kata dia, nyatanya produksi tape tidak terganggu. Kemungkinan besar mencari singkong di luar Bondowoso.

Dia mengakui, untuk mendapatkan tape dengan kualitas baik.

Tentu saja membutuhkan singkong khusus.

“Orang sini menyebut singkong kuning. Singkong itu yang cocok untuk tape. Kalau singkong putih itu tidak cocok,” paparnya.

Salah satu produsen tape di Desa Sumber Tengah, Anwar, mengatakan, satu kali produksi berlangsung selama dua hari.

Setidaknya bisa menghasilkan 7 kuintal tape.

Bahkan, produsen yang skalanya lebih besar bisa memproduksi tape lebih dari satu ton.

Anwar menyatakan, tape yang diproduksinya tidak hanya dijual di Bondowoso.

Namun, juga sudah merambah ke luar daerah.

“Tape yang saya produksi ini justru sedikit dijual di Bondowoso. Lebih banyak dijualnya ke Surabaya,” ungkapnya saat ditemui di rumahnya.

Namun, Anwar sedikit mengeluh, sebab singkong sebagai bahan baku tape kini terbilang mahal.

Namun, dia memaklumi itu karena kualitasnya sesuai dengan harga.

“Kebanyakan singkongnya dari Kecamatan Tamanan. Jadinya agak mahal. Kalau yang dari Binakal kualitasnya tidak sebagus singkong Tamanan,” ujarnya.

Anwar menambahkan, meskipun penjualan tape mendekati Idul Fitri tahun lalu menurun, dia tetap yakin setelah Lebaran akan kembali melonjak.

Dia juga mengatakan, harga dan stok singkong tahun ini mulai stabil.

“Sempat kekurangan singkong tahun lalu. Kalau sekarang sudah cukup,” pungkasnya. (hlb/c2/dwi)

Editor : Radar Digital
#Kuliner #tape #Kawah Ijen #Bondowoso