DABASAH, Radar Ijen - Dari sejumlah situs geologi Ijen Geopark yang paling dikenal adalah geologi blue fire dan air danau kawah yang berada di Kawah Ijen. Dua warisan bumi itu berasal dari letusan dahsyat Gunung Api Ijen Purba yang berlangsung ratusan tahun yang lalu. Kondisi itulah yang menjadi andalan Ijen Purba dalam Ijen Geopark.
Letusan itu kemudian membentuk hamparan kaldera berdiameter 18 kilometer dengan luas 210 kilometer persegi. Dari kejadian itu pula, lalu terbentuk 22 anak gunung api baru. Kawasan ini pun saat ini menjadi andalan Ijen Geopark di Bondowoso sebagai destinasi wisata.
Sebab dari sana, semua pengunjung dapat memulai cerita tentang taman bumi yang telah diakui sebagai UNESCO Global Geopark (UGG) wilayah Bondowoso. "Yang menjadi andalan memang di sana. Karena dari situ, semua cerita Ijen Geopark dimulai," kata Tantri Raras Ayuningtyas, Ketua Pengurus Harian Ijen Geopark Bondowoso.
Dia menyebut, situs yang termasuk Ijen Geopark lainnya juga dijadikan destinasi wisata. Seperti Situs Megalitikum Maskuning Kulon yang memuat 90 benda cagar budaya. Lokasinya terletak di Desa Maskuning Kulon, Kecamatan Pujer.
Batu silindris, batu dakon, dan dolmen yang letaknya berdekatan, tertata rapi, serta mempunyai keunikan tersendiri. "Itu juga menjadi destinasi wisata dan seluruh situs yang tergabung dalam Ijen Geopark," jelasnya.
Menurutnya, dari situs itu, pengunjung juga disuguhi edukasi tentang megalitikum. Di antaranya, tentang sejarah dan makna keberadaan situs tersebut. "Selain wisata pemandangan, di Ijen Geopark juga ada situs sebagai wisata edukasi, dimulai dari warga setempat," imbuhnya.
Tantri mengungkapkan, di lingkungan situs juga dibangun kesadaran wisata. Bahkan dalam bentuk komunitas, yaitu kelompok sadar wisata (pokdarwis). "Agar mereka juga turut berpartisipasi dengan keberadaan peninggalan alam itu, sehingga mereka merasakan manfaatnya juga," pungkasnya. (mun/c2/fid)
Editor : Radar Digital