BACA JUGA : Jam Buka Tutup PKL Tak Berfungsi, Kios Pedagang Pasar Induk Terhalang
Penyakit LSD dapat menular kepada ternak lainnya melalui gigitan nyamuk, lalat, dan tungau. Salah satu upaya mencegahnya adalah menyemprotkan disinfektan khusus. Kabid Keswan dan Kesmavet Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakkan) Bondowoso drh Cendy Herdiawan mengatakan, beberapa gejala yang dapat diamati secara langsung di antaranya adanya benjolan di kulit hewan. Hal itu bisa terjadi di seluruh badannya. Kemudian, jika diukur menggunakan alat pengukur suhu, maka suhu tubuhnya akan naik. Sementara gejala umum lainnya, di antaranya sapi tidak mau makan, lemas, dan lainnya.
Menurut Cendy, jika tidak segera ditangani dengan tepat, maka benjolan pada kulit akan menembus daging hewan. Hal itu tentu dapat menyebabkan kerugian ekonomi. Sebab, tidak akan laku untuk dijual, meskipun sebenarnya dagingnya tetap aman dikonsumsi. “Dading tetap aman dikonsumsi, tapi dengan cara dan langkah yang tepat. Misalnya merebus daging dalam waktu yang cukup lama, agar memastikan daging matang seratus persen,” ucapnya.
Dia menambahkan, sebenarnya hewan yang terpapar LSD bisa disembuhkan dengan penanganan yang tepat. “Setengah bulan sampai sebulan waktu penyembuhannya,” imbuhnya.
Peternak juga diminta untuk waspada terhadap LSD. Meski baru pertama kali ditemukan di Bondowoso, namun penularan penyakit yang satu ini cukup cepat. Hanya melalui gigitan nyamuk, lalat, maupun tungau, ternak lain bisa terpapar. Sementara, tidak akan menular pada manusia. “Kalau pada sapi, sebenarnya tingkat kematiannya hanya sepuluh persen,” tegasnya.
Cendy juga menuturkan, telah berkoordinasi dengan Dinas Peternakan Jatim untuk penanganan lebih lanjut. Termasuk menyediakan disinfektan khusus serta obat yang diperlukan. Untuk mengantisipasi adanya kejadian serupa, dia juga mengaku sudah bekerja sama dengan Dinas Koperasi, Perindustrian, dan Perdagangan (Diskoperindag) Bondowoso, agar sapi yang masuk ke pasar diperiksa terlebih dahulu. “Sapi yang dicurigai LSD harus diisolasi,” pungkasnya. (ham/c2/dwi) Editor : Safitri