BACA JUGA : Diduga Curi Sapi, Kasun di Lumajang Tewas Dihajar Warga
Anggota Komisi II DPRD Bondowoso, Abdul Majid, mengatakan, tape telah lama melekat sebagai oleh-oleh Bondowoso. Maka, tidak salah Bondowoso dijuluki Kota Tape. “Kualitas tape singkong Bondowoso tidak perlu diragukan lagi. Inilah yang membuat tape Bondowoso terkenal sejak dulu,” paparnya.
Seiring dengan berjalannya waktu, ditambah mudahnya masyarakat mengakses makanan lebih modern, termasuk makanan dari luar negeri, eksistensi tape mulai sedikit meredup. Terutama di generasi anak muda. Oleh karena itu, kata Majid, tape saat ini menjadi pekerjaan rumah yang harus dikerjakan bersama untuk bagaimana menarik pembeli. "Yang jelas, harus ada inovasi, semakin banyak jenis dan keragaman makanan dari jenis tape, para pembeli tentu semakin tertarik," katanya.
Lebih jauh, Majid menjelaskan, pemerintah tentunya harus hadir dalam memberi pelatihan terhadap para pelaku usaha tape. Menurutnya, sinergisitas antara pelaku usaha dengan pemerintah juga menjadi faktor penting dalam inovasi produk tape di Bondowoso. "Mereka juga harus diberi pengetahuan tentang produksi tape. Jadi tidak hanya menjual seperti biasa saja, tapi ada inovasi produksi akhir, kemasan, hingga pemasaran,” imbuhnya.
Problem tape di Bondowoso mulai terjadi dari hulu sampai hilir. Pertama, adalah soal bahan baku singkong yang mulai sulit. Walau produksi singkong atau ubi kayu di Bondowoso meningkat setiap tahun, namun bukan berarti kebutuhan singkong untuk tape aman. “Karena singkong untuk tape ini berbeda dengan singkong untuk tepung. Singkong kuning yang dibutuhkan untuk pembuatan tape,” paparnya.
Problem lainnya adalah tingkat pemasaran yang masih tradisional. Bahkan, juga belum ada regulasi atau setidaknya instruksi dari pimpinan daerah, yaitu bupati, untuk mewajibkan tape menjadi sajian di setiap agenda pemerintah daerah. “Paling tidak, makanan camilan saat acara pemerintahan itu ada tapenya. Setiap tamu daerah juga wajib disuguhi tape, karena bisa menambah branding tape Bondowoso,” pungkasnya. (mun/c2/dwi) Editor : Safitri