BACA JUGA : Pria di Jember Tewas Usai Ceburkan Diri ke Kolam Bersama Motornya
Waka Perhutani KPH Bondowoso Eny Handayani mengatakan, penyebab banjir tahun ini berbeda dengan beberapa tahun sebelumnya, yaitu pada 2020. Jika sebelumnya murni akibat alih fungsi lahan, maka kali ini disebabkan intensitas hujan yang cukup tinggi, sehingga terjadi longsor.
Dari tanah longsor tersebut, tambah Eny, kemudian membentuk bendungan di saluran air. Saat terjadi hujan dengan intensitas tinggi, bendungan dari tanah longsor tersebut tidak kuat menahan debit air dan akhirnya jebol. Hal itulah yang membuat banjir bandang terjadi.
Selain itu, dia juga mengaku sudah melakukan perjanjian kerja sama dengan para petani. Boleh menanam tanaman hortikultura, dengan perbandingan 49 persen kubis, kentang, dan lainnya. Kemudian, 51 persen untuk tanaman keras, seperti pohon kopi, alpukat, dan sebagainya. “Kami ingin masyarakat beralih ke tanaman yang keras,” imbuhnya.
Eny menyampaikan, material berupa pohon juga terbawa banjir bandang. Bukan tebangan. Sebab, menurutnya, di area Ijen-Blawan tidak pernah ada program penebangan pohon. Oleh sebab itu, benda tersebut dinilai berasal dari sisa kebakaran hutan yang terjadi beberapa tahun sebelumnya.
Sementara itu, Aditya, Perwakilan PT Medco Geothermal, mengaku sudah memasang stasiun cuaca di sekitar Kawah Wurung, Kecamatan Ijen. Hasilnya, diketahui pada saat terjadi banjir bandang, curah hujan di wilayah tersebut mencapai angka 150 milimeter per jam. Hal tersebut diprediksi masih akan terus terjadi hingga akhir Maret mendatang. “Ini perlu ada sinergisitas, tindak lanjut, dan pemeliharaan,” ucapnya.
Melalui stasiun itu, pihaknya mengaku akan melakukan koordinasi dengan stakeholder lainnya. Untuk memberikan laporan secara berkala, sehingga antisipasi bencana dapat dilakukan lebih baik. (ham/c2/dwi) Editor : Safitri