BACA JUGA : PT Rolas Nusantara Medika Tingkatkan Layanan ke Masyarakat
Setiap hari mereka bergelut dengan asap beracun tanpa perlindungan. Berjalan kaki dengan medan yang cukup ekstrem, ditambah beban belerang yang dipikulnya. Satu kali angkutan, setiap penambang hanya mampu menggotong 70 kilogram belerang. Sebagai wadah, mereka menggunakan alat yang terbuat dari bambu, lalu dipikulnya. Pekerjaan yang cukup berbahaya itu rupanya belum sebanding dengan penghasilan yang didapat.
Seperti yang dialami oleh Suryadi, pria paruh baya asal Banyuwangi yang menambang di Kawah Ijen. Dia mengatakan, perjalanan yang cukup terjal itu ditempuh sekitar setengah jam. Bukan jalan biasa, tapi tanjakan disertai jurang dalam yang ada di sisi jalan. "Sekitar setengah jam dari dasar kawah, sambil memikul belerang. Jalannya bisa dilihat sendiri, sangat membahayakan," katanya.
Suryadi merasakan ketidakpuasan dengan harga belerang saat ini. Sebab, setiap hari dia hanya mampu menambang 70 kilogram belerang. Satu kilogram hanya dibanderol dengan harga Rp 1 ribu, kadang kala lebih sedikit hingga Rp 1.200. "Harganya ga sebanding, Mas, dengan medan yang kami tempuh. Ini saya cuma dapat Rp 70 ribu lebih dalam satu hari," tegasnya.
Hal serupa juga dirasakan oleh Mulyadi, penambang belerang lainnya di Kawah Ijen. Menurutnya, proses menambang di wisata internasional itu cukup membahayakan. Setiap hari dia menembus asap beracun yang terkandung di dasar kawah tersebut. Tanpa alat pelindung apa pun. Hanya menggunakan penutup mulut dari kain biasa. "Berbahaya, Mas, sebab kami tidak tahu waktu asap beracun itu munculnya kapan. Tidak menentu. Kami hanya memakai tutup mulut biasa," timpalnya.
Sebagai tambahan penghasilan, dia juga menjualnya kepada para wisatawan yang berkunjung. Dia menyulap belerang tersebut menjadi bentuk yang menarik. Seperti gantungan kunci, pin, dan lainnya. "Satuannya ini saya jual Rp 10 ribu, untuk gantungan kunci, saya tawarkan ke para wisatawan. Barang kali ada yang minat," pungkasnya.
Sementara itu, di Kawah Ijen terdapat ratusan penambang belerang setiap harinya. Mereka rata-rata berasal dari Banyuwangi, Situbondo, dan Bondowoso. (mun/c2/bud) Editor : Safitri