BACA JUGA : Minta Usut Dugaan Pupuk Palsu
Ternyata kegiatan tersebut merupakan rutinitas yang dilakukan oleh Ahmad Suprayogi setiap hari, terhadap tanaman jamur yang dia budi dayakan bersama sejumlah temannya yang lain. Dari budi daya tersebut, kini mereka sudah berhasil meraup omzet satu juta lebih dalam satu bulan. Setiap hari penghasilan yang didapatkan mencapai hingga Rp 50 ribu.
Siapa sangka, modal awal yang digunakan untuk membuat usaha budi daya jamur tiram sangat terbatas. Sebab, dana yang digunakan adalah hasil iuran dari rekan pemuda di desanya. Hasilnya hanya cukup untuk membeli sebanyak 50 baglog atau media tanam jamur. Sementara, bangunan yang akan dijadikan tempat produksi dibuat secara swadaya menggunakan bambu. "Per baglog itu harganya Rp 3.000, tinggal ngalikan sudah,” kata Suprayogi.
Meski dengan dana yang terbatas, namun semangat untuk tetap berusahanya terbilang cukup kuat. Benar saja, saat ini kurang lebih sudah ada 300 baglog baru. Dari baglog yang tersedia, setiap hari kurang lebih bisa menghasilkan sebanyak dua kilogram jamur tiram. Dari hal tersebut, maka tidak heran jika setiap hari dia mampu mengumpulkan cuan hingga Rp 50 ribu. Padahal, pangsa pasarnya masih masyarakat yang berada di sekitarnya.
Dia juga menceritakan, usahanya mulai menuai hasil setelah tiga bulan pasca-merintis. Baglog yang dibeli mulai tumbuh jamur dan siap dipanen. Menurutnya, itu merupakan hal yang tidak terduga. Mengingat, tujuan awalnya hanya ingin membuat perkumpulan pemuda di desanya memiliki kegiatan yang produktif. Sebab, sebelumnya mereka hanya berkumpul tanpa arah dan tujuan yang jelas.
Persoalan tersebut membuat mereka membulatkan tekad mencoba terobosan baru, dengan belajar menjadi wirausahawan, meski dari lingkup kecil. Diwujudkan dalam bentuk budi daya jamur. "Apalagi suhu di kampung kami sangat cocok untuk budi daya jamur. Ditambah peluang pasar yang cukup luas," ucapnya.
Sejauh ini pasar yang mereka jangkau masih dalam lingkup warga sekitar. Sebab, tingkat produksinya dinilai masih belum cukup besar. Meski begitu, dia mengaku sudah sering kewalahan memenuhi kebutuhan pembeli. Sebab, jamurnya selalu kurang. Berapa pun jumlah jamur yang dipanen. "Ke depan, kami berencana memproduksi baglog sendiri. Kalau saat ini masih belum, karena terkendala modal," ujarnya.
Ia menambahkan, dalam membangun usaha tersebut mereka memiliki prinsip yang terus ditekuni. Yakni, merintis dan menekuni sebuah usaha merupakan kesuksesan yang sedang menanti. Tak lupa disertai kemauan dan keberanian yang kuat untuk mengubah pola hidup. "Di mana ada kemauan, di situ ada jalan. Jika mau berusaha dan bekerja keras, peluang selalu ada," tegasnya.
Kelompok usaha budi daya jamur yang mereka rintis saat ini diberi nama Juragan 86. Kurang lebih ada 14 pemuda di Dusun Kolanggar, Desa Banyuputih, yang tergabung di dalamnya. Nama tersebut diambil bukan tanpa alasan. Melainkan dibalut dengan harapan para anggotanya untuk menjadi pengusaha sukses. "Sementara, lewat Juragan 86 dulu untuk wadah bagi pemuda belajar berbisnis," pungkas alumnus Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Negeri Jember itu. (c2) Editor : Safitri