BACA JUGA : Pemkab Jember Resmi Berlakukan Jam Kerja Baru ASN
Di balik keindahan kerajinan kuningan tersebut, terdapat tenaga kerja yang andal. Pantauan Jawa Pos Radar Ijen, di bagian belakang toko kerajinan kuningan terdapat pria yang tengah memegang gerinda. Tenaga kerja lainnya tengah melakukan finishing terhadap kerajinan kuningan berbentuk selongsong peluru. Tangannya terlihat lincah merapikan kerajinan kuningan tersebut, hingga tercipta bentuk yang sesuai dengan keinginan.
Kerajinan kuningan di Bondowoso memang sudah cukup dikenal oleh masyarakat. Termasuk dari luar daerah, hingga ibu kota, Jakarta. Bahkan, informasinya UD Riski sudah pernah mengekspor produknya hingga luar negeri. “Sebelum bom Bali 2002 ekspor ke luar negeri,” ucap Karlina pemilik UD Riski.
Lambat laun penjualan kuningan mulai menurun, puncaknya saat pandemi Covid-19. Saat ini harga bahan baku kuningan justru mengalami kenaikan. Sementara, harga jualnya tidak bisa dinaikkan begitu saja. Sebab, dapat berdampak pada jumlah pembeli nantinya. “Satu kilogram kuningan bisa Rp 65 ribu hingga Rp 70 ribu kami belinya,” katanya.
Selain mahal, lanjut Lina, bahan baku pembuatan kerajinan miliknya juga terbilang cukup sulit didapatkan. Bahkan tak jarang ia harus membeli kepada tukang rongsokan dari luar kabupaten dengan jumlah banyak. “Tapi, kadang tukang rongsokan ada yang bawa ke sini langsung. Tapi, ya tidak banyak, paling lima sampai sepuluh kilogram saja,” ungkapnya.
Melihat kondisi tersebut, perempuan dua anak itu mengaku memilih tetap bertahan, karena memang mata pencarian satu-satunya. Selain itu, usaha yang ditekuninya sudah turun-temurun sejak puluhan tahun lalu. Sehingga, dia bersama suaminya, Amir, berusaha keras agar produksi kuningan tetap hidup. "Memang menurun, apalagi selama pandemi," ucapnya.
Mengingat produk kuningan yang dihasilkan, seperti kinangan, guci, asbak, aneka bentuk binatang, vas bunga, alat musik tradisional, selongsong peluru, dan lainnya, tidak hanya diminati oleh masyarakat Bondowoso. Sejumlah pelanggan yang ada di Jakarta dan sekitarnya masih kerap memesan bentuk khusus. Meskipun jumlahnya tidak sebanyak dulu.
Maklum saja, tempat kuningan Bondowoso di Desa Cindogo memang banyak dikunjungi oleh para pejabat pemerintahan. Bahkan, bukan hanya Pemkab Bondowoso. Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa dan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) RI Sandiaga Salahudin Uno juga mengunjungi usaha kuningan Bondowoso asal Desa Cindogo.
Lina juga menceritakan, awalnya jumlah perajin kuningan di daerah terbilang cukup banyak. Namun, seiring berjalannya waktu, tidak sedikit para perajin yang gulung tikar. Regenerasi merupakan tantangan yang harus dihadapi saat ini. Meski usaha yang ditekuninya berjalan puluhan tahun, namun kedua anaknya tidak menunjukkan ketertarikan untuk melanjutkan usaha tersebut. “Semoga saja nanti anak-anak mau meneruskan,” harapnya. (c2/dwi) Editor : Safitri