BACA JUGA : Gandeng DJP Jatim, Polije Edukasi Perpajakan Melalui TeFa Tax Center
Untuk menghadapi persoalan global, krisis pangan, Pemkab Bondowoso telah melakukan berbagai upaya sebagai langkah antisipasi agar krisis pangan tidak sampai terjadi. Salah satunya adalah memantau ketersediaan 11 bahan pokok. Harapannya, kebutuhan bahan pokok masyarakat masih bisa terpenuhi dengan harga yang juga masih terjangkau.
Subkoordinator Kerawanan Pangan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Bondowoso Nenni Wahyu Hidayati menyebut, 11 bahan pokok yang menjadi fokus perhatian yakni beras, jagung, telur, gula, minyak, bawang merah, bawang putih, daging ayam, daging sapi, cabai rawit, dan cabai merah besar. Pemantauan barang-barang itu dilakukan di sejumlah tempat.
Selain itu, untuk mengatasi ancaman yang terjadi, dia juga mengaku tengah memaksimalkan fungsi dari tim pengendalian inflasi pangan daerah. Mereka bertugas untuk memberikan laporan terkait ketersediaan dan harga pangan di seluruh wilayah. Kemudian, membandingkan dengan daerah lain. Upaya tersebut dilakukan bekerja sama dengan Dinas Koperasi Perindustrian dan Perdagangan (Diskoperindag). "Setiap minggu dilaporkan, kira-kira Bondowoso di atas rata-rata atau di bawahnya," jelasnya.
Jika berdasarkan pemantauan itu diketahui bahwa harga bahan pokok berada di atas harga rata-rata, maka akan segera dilakukan pasar murah. Mengingat dua komoditas, yakni bawang merah dan cabai rawit, sering mengalami kenaikan harga yang cukup signifikan. "Kalau kenaikan harga tidak sampai 10-15 persen dibanding bulan sebelumnya, hal itu masih dalam batas kewajaran," imbuhnya.
Berdasarkan data dari Bondowoso Dalam Angka yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) Bondowoso, beberapa komoditas mengalami peningkatan dan penurunan, baik luas panen maupun produksinya. Untuk padi luas panennya turun 16,43 persen pada 2020, begitu juga dengan luas panen jagung yang naik sebesar 9,89 persen pada 2020. Sementara luas panen kedelai turun 59,62 persen pada 2020. (ham/c2/dwi) Editor : Safitri