BACA JUGA : Pasang Implan Rumah Siput sampai Dua Kali hingga ke Singapura
Kepala Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Keluarga Berencana (Dinsos P3AKB) Bondowoso Anisatul Hamidah menyoroti kondisi tersebut. Jika itu tetap saja terjadi, dikhawatirkan akan menjadi mata rantai kemiskinan yang tidak berkesudahan. Sebab, perilaku tersebut bisa menjadi karakter kepada anak-anak yang belum mengetahui apa-apa.
Anis menyebut, setiap pekan Dinsos P3AKB memberikan aktivitas berupa kegiatan bagi pengemis, anak-anak, dan gepeng lainnya yang berada di lingkungan pondok sosial. "Itu untuk anak-anak para pengemis yang ada di rumah singgah," urainya.
Menurutnya, dengan aktivitas tersebut diupayakan mengubah menjadi perbaikan pada kebiasaan dan karakter anak-anak. Yakni tidak mengikuti tindakan orang tuanya. Sehingga, mata rantai dalam menggantung nasib kepada orang lain lepas, antara orang tua dengan anaknya. "Kalau bisa disekolahkan, ayo! Kami pantau nanti perkembangannya. Itu yang bisa kami lakukan," ungkapnya.
Melalui aktivitas tersebut, Anis berharap agar perilaku meminta-minta tidak mengikutsertakan anak-anak yang masih belum tahu apa-apa. Sehingga tidak menjadi penerus yang meminta-minta di berbagai keramaian. "Kalau ibunya sudah tidak bisa dihentikan, minimal anaknya tidak sampai ikut," pungkasnya. (aln/c2/bud) Editor : Safitri