BACA JUGA : Wakil Rakyat Berulah, LPP APBD Disandera
Keris merupakan karya agung warisan budaya kemanusiaan lisan dan nonbenda yang berasal dari Indonesia. Hal tersebut sudah mendapat pengakuan serta ditetapkan secara langsung oleh UNESCO. Benda satu ini juga diyakini kaya akan filosofi yang mendalam dan tinggi.
Untuk melestarikan benda tersebut, Paguyuban Tosan Aji Singowulung Bondowoso menggelar sarasehan budaya di wisma wabup, kemarin (30/7). Sejumlah keris terlihat dijajar dan dipajang secara rapi. Ukuran, bentuk, dan modelnya pun berbeda-beda. Bahkan ada keris yang diletakkan bersama tumpukan bunga.
Pantauan Jawa Pos Radar Ijen, selain melakukan pameran keris, dilaksanakan pula diskusi seputar filosofinya. Proses diskusi berjalan cukup dinamis. Terlebih, ada narasumber khusus yang didatangkan dari Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, Jogjakarta.
Wakil Bupati Bondowoso Irwan Bachtiar Rahmat mengatakan, pihaknya mendukung segala kegiatan sebagai upaya pelestarian keris. Sebab, benda tersebut telah dinobatkan sebagai warisan budaya tak benda sejak 2008 lalu. Selain itu, kegiatan itu dinilai dapat menepis anggapan bahwa kelompok pencinta keris adalah kelompok syirik yang mau mendewakan keris. "Kita hanya mencintai hasil seni budaya nenek moyang kita," katanya.
Pria yang juga Ketua DPC PDIP Bondowoso itu menegaskan, kegiatan serupa juga diharapkan dapat menyasar generasi milenial. Agar karya seni yang sudah dipatenkan UNESCO itu tetap dilestarikan dan dirawat bersama. "Saya berharap ini bisa dimasukkan ke dalam satu kurikulum di beberapa sekolah. Sehingga mereka mengetahui," tandasnya. (ham/c2/fid) Editor : Safitri