Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Petani Keluhkan Musim Pancaroba

Safitri • Senin, 18 Juli 2022 | 21:53 WIB
ilustasi
ilustasi
KEMBANG, Radar Ijen - Petani kebingungan bercocok tanam di musim yang tidak menentu kali ini. Sebab, sudah keseringan mereka gagal panen. Petani menganggap sudah saatnya memasuki musim kering. Tetapi hujan masih saja mengguyur.

BACA JUGA : Semangat Ajaran Baru, Siswa di Jember Tetap Masuk meski Baru Sembuh

Petani asal Desa Sumber, Salam Abdul Hadi, yang baru saja menanam tembakau mengaku khawatir tanamannya gagal panen. Pasalnya, musim kemarau yang diharapkan datang, ternyata tak kunjung tiba. "Sekarang baru menanam tembakau. Harapannya kemarau segera tiba, tetapi hampir setiap hari hujan terus," ucapnya kepada Jawa Pos Radar Ijen, kemarin (17/7).

Hadi mengatakan, sebelumnya sudah menanam cabai dan padi. Namun, selalu gagal panen. Apalagi, hasilnya untuk mengembalikan modal awal saja tidak cukup. Kegagalan itu membuat dirinya memaksakan diri untuk menanam tembakau, meski cuaca saat ini masih sering hujan. "Karena beberapa kali tanam cabai gagal. Padi juga begitu. Semoga berhasil tanam tembakau ini," katanya.

Selain itu, ada saja penyakit yang menyerang tanaman. Baik padi ataupun cabai. Untuk melanjutkan aktivitasnya, dirinya memberanikan diri menanam tembakau. "Kalau hujan terus, bisa mati bibit tembakau itu," tambahnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian Bondowoso Hendri Widotono mengatakan, sudah ada petugas dari Dinas Pertanian untuk memberikan pendampingan kepada para petani di musim pancaroba saat ini. "Kebetulan, kalau musim pancaroba yang berperan itu tenaga pengamat hama penyakit tanaman. Itu yang sudah di lapangan," jelasnya.

Saat musim yang tidak tentu seperti saat ini, menurutnya, hama dan penyakit tanaman sering tumbuh. Karena itu, pendampingan harus dilakukan secara konsisten terhadap para petani. "Kami juga ada tenaga penyuluh di lapangan. Mereka mendampingi para petani secara konsisten pada petani," urainya.

Hal itu dilakukan untuk menguatkan ketahanan pangan. Ketahanan itu harus dimulai dari akar rumput, yaitu para petani. Sebab, dirinya mengkhawatirkan 80 persen petani gagal panen. Dampaknya ketahanan pangan akan tidak stabil. "Ketika petani gagal 60 persen saja, maka akan ambruk. Ketika berproduksi dengan baik, saya kira ketersediaan pangan juga baik. Itu kuncinya," pungkasnya. (mg5/c2/fid) Editor : Safitri
#Pancaroba #Petani #Bondowoso