Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Harga Terus Menurun, Pedagang Pilih Impor Bawang Putih

Safitri • Sabtu, 4 Juni 2022 | 18:29 WIB
REMPAH IMPOR: Pedagang saat membersihkan bawang putih yang diimpor dari Tiongkok di Pasar Induk Bondowoso. 
REMPAH IMPOR: Pedagang saat membersihkan bawang putih yang diimpor dari Tiongkok di Pasar Induk Bondowoso. 
DABASAH, Radar Ijen - Harga bawang putih pada awal bulan Juni menurun drastis. Pergerakan harga bawang putih saat ini tidak stabil. Sehingga melahirkan kekhawatiran tersendiri pagi para pelaku usaha. Mengantisipasi kerugian, pilihan tepat adalah impor, karena dianggap murah dan berkualitas.

BACA JUGA : Pilkada Mulai Disiapkan

Pedagang bawang putih di Pasar Induk Bondowoso, Ihsan, mengatakan, terpaksa harus membeli bawang putih impor dari Tiongkok. Apalagi saat ini harga bawang putih menurun. "Kalau tidak membeli barang impor, rugi besar nantinya," ucapnya.

Dirinya enggan untuk membeli bawang putih hasil produksi lokal petani Bondowoso. Pasalnya, bawang tidak berkualitas dan harganya begitu tinggi. Menurutnya, hal tersebut justru akan memperburuk bisnis jual belinya. "Para pembeli di sini lebih senang bawang impor ini. Harganya lebih murah, kualitasnya bagus, dan ukuran lebih besar," bebernya.

Sementara itu, Kabid Perdagangan Dinas Koperasi, Perindustrian, dan Perdagangan (Diskoperindag) Kabupaten Bondowoso Totok Haryanto menyampaikan, menurunnya harga bawang sudah menjadi mekanisme pasar. "Sekarang impor bawang putih sudah banyak masuk di Indonesia," ucapnya.

Menurut dia, sudah tentu bawang impor akan berpengaruh pada produksi bawang lokal milik petani. Sementara, petani banyak produksi bawang bukan untuk dikonsumsi sendiri. melainkan untuk diperjualbelikan. "Bawang lokal mau tidak mau, dengan kondisi seperti itu, ujungnya tidak laku," jelas Totok.

Totok menambahkan, kegagalan produksi bawang lokal berkualitas itu karena faktor cuaca. Menurutnya, musim saat ini tidak tentu. “Kadang hujan dan kadang panas. Ada semacam gagal panen dan kualitasnya semakin kurang baik," ulasnya.

Selain itu, dirinya berharap agar Dinas Pertanian juga ikut memperhatikan produksi bawang putih di akar rumput. Pasalnya, kualitas bawang hasil cocok tanam petani kualitasnya harus ditingkatkan. "Bawang impor dengan kualitas lebih baik, dan harganya yang lebih murah, pasti berpengaruh pada bawang lokal," pungkasnya.

Dari catatan Sikaperbapo Disperindag Jatim, harga bawang putih di Bondowoso pada 1 Mei kemarin mencapai Rp 24–25 ribu per kilogram. Sedangkan 2 Juni kemarin turun jadi Rp 20 ribu per kilogram.

Sementara itu, pada akhir 2018, Bondowoso menjadi pilot project untuk pengembangan budi daya bawang putih di kawasan hutan yang berada di dataran tinggi. Pemanfaatan lahan hutan untuk produksi bawang putih itu atas kerja sama Perum Perhutani dengan Pusat Inkubasi Bisnis Syariah Majelis Ulama Indonesia (Pinbas-MUI) Jawa Timur, serta Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) setempat. (mg5/c2/dwi) Editor : Safitri
#Bondowoso hari ini #Bondowoso