Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Bentuk Curahan Hati Tidak Bisa Menahan Mulut

Safitri • Rabu, 23 Maret 2022 | 20:46 WIB
ESTETIS: Salah seorang pengunjung ketika melihat salah satu karya yang dipajang dalam pameran seni rupa bertema Kento
ESTETIS: Salah seorang pengunjung ketika melihat salah satu karya yang dipajang dalam pameran seni rupa bertema Kento
BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID - Berbagai karya seni rupa seperti lukisan, fotografi, dan sebagainya terpajang rapi dalam ruangan yang dicat berwarna merah muda. Ternyata sejumlah karya tersebut dalam rangka pameran seni rupa yang digagas oleh Komunitas Kalimat Project. Tema yang diangkat pun cukup menarik, yakni "Kento' Bhaceng".

Baca Juga : “Ilmuwan” Pesantren Nuris Ciptakan Biodetergen Ramah Lingkungan

Kento' Bhaceng merupakan kosa kata yang diambil dari bahasa Madura. Kento' dalam bahasa Madura memiliki makna kentut, sementara bhaceng artinya bau atau busuk. Ternyata pengambilan tema itu bukan tanpa sebab atau tanpa makna. Melainkan memiliki filosofi mendalam, terkait bagaimana cara menahan diri untuk tidak berbuat buruk.

Pameran yang digelar 19 hingga 28 Maret tersebut cukup menjadi refleksi para seniman Bondowoso untuk terus berkreasi. Budiamin, Ketua Kalimat Project, menuturkan, pameran tersebut berangkat dari kegelisahan para seniman yang tergabung dalam komunitasnya. Terlebih, selama ini Budi menilai, seniman masih dianggap anomali oleh masyarakat. "Artinya dicibir lah begitu. Nah, itu yang ingin kami angkat, bahwa seniman juga bisa punya peran," katanya.

Dikonfirmasi terkait tema yang diambil, Budiamin menjelaskan, tema tersebut merupakan sebuah kritik sosial bagi masyarakat maupun pemerintahan. Sebab, pihaknya melihat di Indonesia, khususnya di Bondowoso, masih ada hal yang percuma, tapi tetap saja diperebutkan. "Filosofi kentut, kalau ditahan kan sakit perut. Kalau dikeluarkan pasti bikin ribut," jelasnya.

Sebenarnya pelajaran yang dapat diambil dari tema yang dicantumkan, menurut Budiamin, jika seseorang dapat menahan kentutnya, kenapa tidak mencoba untuk menahan mulutnya dari mengatakan hal-hal yang tidak baik. "Arti singkatnya begitu lah," imbuhnya.

Ternyata para seniman yang menampilkan karyanya tidak hanya berasal dari Bondowoso. Sejumlah seniman dari luar daerah, seperti Jember, Kota Batu, Banyuwangi, dan lainnya juga berpartisipasi. Walaupun demikian, ternyata tidak semua karya dapat dipajang dan ditampilkan.

Terdapat tiga ketentuan yang harus dipenuhi jika karyanya ingin ditampilkan. Di antaranya, karya yang ditampilkan harus ekspresif atau berdasarkan curahan jiwanya. Kemudian, eksperimental atau bukan komersial. Terakhir, karyanya harus out of the box. "Harus masuk tiga kriteria itu. Ide-idenya yang saya maksudkan," ucapnya.

Lebih lanjut, pihaknya juga menuturkan, pameran ini berhasil menarik minat masyarakat untuk berkunjung. Mengingat di Kota Tape memang jarang diadakan pameran seni rupa. Biasanya pengunjung akan ramai mulai dari sore hingga malam hari. "Apalagi anak-anak, berkunjung ke sini mereka terkejut. Ternyata menggambar itu tidak hanya memakai cat atau krayon saja, tapi banyak media yang bisa dipakai," pungkasnya.

 

 

Jurnalis : Ilham Wahyudi
Fotografer : Ilham Wahyudi
Redaktur : Dwi Siswanto Editor : Safitri
#Bondowoso hari ini #Bondowoso