Dulu, perajin kuningan di tempat ini jumlahnya cukup banyak. Namun, kali ini tidak sedikit mereka gulung tikar dan tinggal hitungan jari. Salah satu pengusaha kerajinan kuningan UD Riski, Kalina, mengatakan, dulu peminat kerajinan cukup banyak. Bahkan, dia sempat mengirim pesanan barang ke Italia pada 2003 silam.
Di Indonesia sendiri, pesanan barang juga menyebar ke Papua, Kalimantan, Jakarta, dan beberapa kota lainnya. "Sebelum bom Bali satu kami mengirim ke Italia. Kalau kenong itu ke Malaysia," katanya saat ditemui di lokasi pembuatan kerajinan kuningan, kemarin (6/10).
Kini, kondisi tersebut berubah drastis, terutama sejak pandemi Covid-19 melanda. Perempuan yang akrab disapa Lina ini mengaku, omzetnya turun lebih dari 70 persen dari hari biasanya. Bahkan pernah dalam sebulan tidak satu pun barangnya terjual. "Bukan hanya sepi, tapi pernah tidak laku sama sekali dalam sebulan," ungkapnya.
Selain karena pandemi Covid-19, situasi tersebut juga dipengaruhi oleh mahalnya bahan baku. Bahan baku yang didapat dari tukang rongsokan, lanjut Lina, saat ini sulit didapatkan. Tak jarang dia harus membeli ke Kabupaten Situbondo dengan jumlah banyak. "Kami menyimpan sedikit-sedikit. Kadang ada yang bawa ke sini nggak banyak. Kadang lima sampai sepuluh kilogram," tambah perempuan asal Bali tersebut.
Usaha kuningan turun-temurun yang dirintis sejak 1999 lalu itu juga mengalami kesulitan permodalan. Akibatnya, produktivitas usahanya pun turun drastis. Jika sebelum pandemi dia mampu mengerjakan satu kuintal kuningan dalam sebulan, kini jumlah itu dikerjakan dalam tiga bulan.
Bahkan, penurunan produksi juga berimbas pada berkurangnya jumlah pekerja. "Sekarang prosesnya lebih panjang. Kendalanya juga ada di SDM. Teman-teman di sekitar sini juga banyak yang sudah tutup," pungkasnya.
Jurnalis : Muchammad Ainul Budi
Fotografer : Muchammad Ainul Budi
Redaktur : Lintang Anis Bena Kinanti Editor : Safitri