Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Pengusaha kerajinan Kuningan Coba Bangkit Lagi

Safitri • Kamis, 7 Oktober 2021 | 16:21 WIB
TERUS EKSIS: Salah seorang perajin kuningan ketika membuka kuningan dari cetakannya. Pengusaha kuningan di Kecamatan Tapen saat ini terus berupaya bangkit dari krisis pandemi.
TERUS EKSIS: Salah seorang perajin kuningan ketika membuka kuningan dari cetakannya. Pengusaha kuningan di Kecamatan Tapen saat ini terus berupaya bangkit dari krisis pandemi.
BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Toko kerajinan kuningan berjejer di jalan raya Desa Cindogo, Kecamatan Tapen. Deretan toko yang memajang segala macam ukiran berbahan kuningan itu berada di sepanjang pinggir jalan. Mereka menjual mulai dari paidon, kinangan, guci, asbak, aneka bentuk binatang, vas bunga, alat musik tradisional, hingga kerajinan kuningan berbentuk selongsong peluru.

Dulu, perajin kuningan di tempat ini jumlahnya cukup banyak. Namun, kali ini tidak sedikit mereka gulung tikar dan tinggal hitungan jari. Salah satu pengusaha kerajinan kuningan UD Riski, Kalina, mengatakan, dulu peminat kerajinan cukup banyak. Bahkan, dia sempat mengirim pesanan barang ke Italia pada 2003 silam.

Di Indonesia sendiri, pesanan barang juga menyebar ke Papua, Kalimantan, Jakarta, dan beberapa kota lainnya. "Sebelum bom Bali satu kami mengirim ke Italia. Kalau kenong itu ke Malaysia," katanya saat ditemui di lokasi pembuatan kerajinan kuningan, kemarin (6/10).

Kini, kondisi tersebut berubah drastis, terutama sejak pandemi Covid-19 melanda. Perempuan yang akrab disapa Lina ini mengaku, omzetnya turun lebih dari 70 persen dari hari biasanya. Bahkan pernah dalam sebulan tidak satu pun barangnya terjual. "Bukan hanya sepi, tapi pernah tidak laku sama sekali dalam sebulan," ungkapnya.

Selain karena pandemi Covid-19, situasi tersebut juga dipengaruhi oleh mahalnya bahan baku. Bahan baku yang didapat dari tukang rongsokan, lanjut Lina, saat ini sulit didapatkan. Tak jarang dia harus membeli ke Kabupaten Situbondo dengan jumlah banyak. "Kami menyimpan sedikit-sedikit. Kadang ada yang bawa ke sini nggak banyak. Kadang lima sampai sepuluh kilogram," tambah perempuan asal Bali tersebut.

Usaha kuningan turun-temurun yang dirintis sejak 1999 lalu itu juga mengalami kesulitan permodalan. Akibatnya, produktivitas usahanya pun turun drastis. Jika sebelum pandemi dia mampu mengerjakan satu kuintal kuningan dalam sebulan, kini jumlah itu dikerjakan dalam tiga bulan.

Bahkan, penurunan produksi juga berimbas pada berkurangnya jumlah pekerja. "Sekarang prosesnya lebih panjang. Kendalanya juga ada di SDM. Teman-teman di sekitar sini juga banyak yang sudah tutup," pungkasnya.

 

 

Jurnalis : Muchammad Ainul Budi
Fotografer : Muchammad Ainul Budi
Redaktur : Lintang Anis Bena Kinanti Editor : Safitri
#usaha #Bisnis #Bondowoso