Hal tersebut tentu memengaruhi pendapatan asli daerah (PAD) di sektor pariwisata. Sebab, Bondowoso terkenal dengan wisata alam pegunungannya yang memesona. Wisata-wisata andalan seperti Kalipait, Kawah Wurung, Air Terjun Blawan, Air Panas Blawan, Air Terjun Niagara, Arak-Arak, hingga Kawah Ijen belum bisa menerima kunjungan.
“Tentu tutupnya wisata ini jelas memengaruhi PAD kabupaten. Itu sudah otomatis turun PAD-nya dari target sebelumnya,” ujar Kepala Dinas Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga (Disparpora) Bondowoso Mulyadi, beberapa waktu lalu.
Tak hanya wisata alam seperti Arak-Arak atau Kawah Wurung, wisata desa pun belum bisa dibuka. Meski demikian, dia belum mendapat laporan mengenai adanya pengelola wisata yang sudah kolaps dan tak bisa bangkit lagi. “Sementara ini belum ada. Karena penutupan ini kan sifatnya sementara. Jadi, kami berharap tidak ada laporan seperti itu. Dalam waktu dekat, apabila satu hingga dua bulan wisata sudah bisa dibuka lagi, kami harap para pengelola sudah siap segalanya,” urai Mulyadi.
Sebelumnya, Disparpora sudah mengumpulkan para pelaku wisata di Bondowoso. Baik wisata buatan, alami, maupun wisata desa. “Kami melakukan pembinaan, bersinergi, dan kolaborasi dalam program wisata di Bondowoso. Kami menyerap aspirasi mereka. Apa yang perlu dibenahi dari pelaku wisata, akan kami fasilitasi,” bebernya.
Mulyadi menyebut, para pelaku wisata sudah menyiapkan diri untuk bangkit kembali. Meskipun hingga saat ini belum ada kejelasan dari pemerintah pusat terkait kapan objek wisata bisa dibuka lagi. “Yang jelas, mereka ada penurunan omzet selama tidak ada kunjungan. Tetapi, kami akan fasilitasi mereka bila sudah dapat lampu hijau untuk buka kembali, agar wisata ini bisa bangkit lagi,” pungkasnya.
Sementara itu, Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Tirta Agung Sumber Wringin M Fadil mengaku, selama penutupan wisata desanya, praktis tidak ada pendapatan yang masuk. Aktivitas pengelola pun menjadi berkurang. “Selama penutupan, pekerja kami akhirnya hanya beraktivitas bersih-bersih di wahana saja. Namun, kami juga ada perbaikan di beberapa sudut,” bebernya.
Jurnalis : Muchammad Ainul Budi
Fotografer : Muchammad Ainul Budi
Redaktur : Lintang Anis Bena Kinanti Editor : Safitri