Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Beli dari Petani, Dibagikan Warga Sukarela

Safitri • Senin, 15 Maret 2021 | 18:47 WIB
MENUMPUK : Sekitar 16 ton ubi Cilembu menumpuk di gudang milik Endang Rahmah, salah seorang warga Desa Pancoran. Ternyata, dia sengaja membeli dari petani untuk membantu para petani yang sedang krisis.
MENUMPUK : Sekitar 16 ton ubi Cilembu menumpuk di gudang milik Endang Rahmah, salah seorang warga Desa Pancoran. Ternyata, dia sengaja membeli dari petani untuk membantu para petani yang sedang krisis.
BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Berton-ton ubi Cilembu menumpuk di gudang produksi milik Endang Rahmah, warga Dusun Karanggilih, Desa Pancoran, Kecamatan Kota.

Ubi sebanyak itu dbeli dengan harga mulai Rp 2.500 per kilogram dari para petani dengan tujuan membantu. Diketahui, harga ubi merosot tajam, tak terkecuali ubi Cilembu (ubi madu). Harga ubi Cilembu Rp 500 – Rp 700 per kilogram. Sedangkan saat normal, bisa mencapai Rp 4 ribu – Rp 5 ribu per kilogram.

Kondisi itu diperparah dengan sepinya pembeli atau tengkulak. Padahal, musim panen telah tiba. Lantas, apa yang dilakukan Rahma setelah membeli ubi Cilembu dari para petani?

Rupanya, ubi Cilembu itu dibagikan kepada warga sekitar. Setidaknya, sudah ada sekitar 2 ribu KK yang menerima ubi darinya. Tampaknya, perempuan berusia 34 tahun tersebut tak memikirkan uang yang sudah dikeluarkan untuk membantu para petani.

Seharusnya, Rahma bisa menambal pengeluaran dengan menjual kembali ubi itu. "Saya juga membagikannya ke panti asuhan, panti jompo, dan pesantren di Bondowoso," katanya.

Selain itu, Rahma juga membolehkan para warga yang mau mengambil ubi Cilembu di ruang produksi mebelnya. Tak pelak, warga pun berbondong-bondong datang ke sana.

"Saya ingin berbagi ubi dengan masyarakat sekitar. Ubi itu bisa dimakan sebagai camilan bersama keluarga nantinya. Saya tak mematok harga, warga boleh mengambil seperlunya. Tak jarang pula ada warga yang memberikan uang kepada saya," paparnya.

Sebenarnya, Rahma sempat kebingungan untuk menghabiskan ubi Cilembu. Sebab, meski telah dibagikan warga, ubi Cilembu masih banyak tersimpan di ruang produksi. Alumnus Pendidikan Matematika Universitas Bondowoso tersebut akhirnya memposting foto tumpukan ubi Cilembu beserta keterangan di media sosial Facebook.

Dalam keterangannya, dia mencari orang yang bisa menampung ubi Cilembu tanpa tarif, hanya mengganti uang ongkos kirim bila dikirim ke luar kota. Unggahannya itu ternyata sudah menyebar luas di Twitter dan dibagikan sejumlah warganet.

"Saat ini, tumpukan ubi Cilembu sudah berkurang, mungkin hanya sekitar 1 ton saja. Tetapi, masih banyak petani ubi yang membutuhkan bantuan. Saya sampai kewalahan. Ke depan, saya akan berupaya membantu," sebutnya.

Dia mengungkapkan, rencana jangka panjang ubi Cilembu itu akan diolah menjadi keripik dengan memberdayakan masyarakat sekitar. Tetapi, rencana itu belum terlaksana karena keterbatasan alat.

"Kami mau membeli alat frying dehydrator untuk mengolah ubi menjadi panganan sehat. Tunggu uangnya terkumpul dulu. Bila produk tidak terjual semua, bisa kami distribusikan ke tempat yang dilanda bencana alam. Dengan begitu, kami bisa sedekah dengan makanan yang lebih mudah pendistribusiannya," ulasnya.

Tak hanya ubi, beberapa bulan lalu, tomat juga menumpuk di ruang produksi mebel. Tomat yang dibeli juga dibagikan ke masyarakat. Sebagian lagi diolah menjadi saus tomat dan dibanderol dengan harga Rp 7.500 per 250 gram.

Jurnalis: Muchammad Ainul Budi

Fotografer: Muchammad Ainul Budi

Editor: Solikhul Huda Editor : Safitri
#Bondowoso