Ada lima culture site Ijen Geopark yang sudah fix diajukan ke UNESCO. Di antaranya tiga warisan benda, yakni struktur Gua Butha Sumber Canting, struktur Gua Butha Cermee, dan situs megalitikum Maskuning Kulon. Sedangkan dua warisan tak bendanya adalah Singo Ulung dan tari Petik Kopi.
“Warisan benda menunjuk Desa Maskuning Kulon ini sebagai tempat jujukan budayanya juga. Sebab, di desa ini ada pusat megalitikum dalam satu kompleks wilayah dengan jumlah sebaran sekitar 92 batu dolmen,” ujar Tantri Raras Ayuningtyas, salah seorang tim ahli budaya Ijen Geopark Bondowoso.
keberadaan Situs Dolmen di Desa Maskuning Kulon, Pujer
Jawa Pos Radar Ijen berkesempatan ikut bersama tim gabungan menelusuri beberapa titik batu dolmen di Desa Maskuning Kulon, Pujer, Kamis (7/12). Perangkat desa bersama tim dari Dinas Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga (Disparpora) serta Kepala Seksi (Kasi) Sejarah dan Kepurbakalaan terjun langsung ke lokasi.
Situs megalitikum di Desa Maskuning Kulon ini memang sangat unik. Puluhan batu dolmen berada dalam satu wilayah desa. Jaraknya pun berdekatan. Apalagi, beberapa batu itu ada di tengah-tengah kebun dan persawahan warga. Situs megalitikum di sana berbentuk pemakaman yang terbuat dari batu besar dengan kaki-kaki di bawahnya. Bertujuan agar jenazah pada zaman dahulu tidak dimakan binatang buas atau dicuri orang. Sebab, di dalamnya juga terdapat bekal kubur berupa perhiasan dan benda-benda bekal menuju alam nenek moyang.
Tim bergerak memetakan jalur dan rute. Awalnya, tim berdiskusi terlebih dulu di balai desa. Setelah itu, bergerak ke 15 titik batu dolmen yang sejalur. Sebanyak 15 batu yang kami kunjungi itu menempuh jarak sepanjang 3 kilometer dengan berjalan kaki. Dengan waktu tempuh sekitar 1 jam 30 menit.
Berjalan di tepi sawah hingga blusukan di tengah kebun. Pemetaan rute itu rencananya akan dikemas dalam konsep wisata edukasi sejarah dan budaya nantinya. “Kami sudah identifikasi situs di 15 titik batu dolmen. Nantinya, akan dipaketkan bersama budaya setempat dengan membuat peta detail. Kami akan mengemas ini semua bersama Disparpora, desa, dan pihak lainnya untuk menyiapkan materi,” kata Tantri.
Total ada sekitar 58 batu dolmen di desa itu. Dengan perincian 57 batu dolmen dan satu batu dakon. Budaya yang masih ada di desa tersebut macam macapah, kotekan, dan patrol. Bahkan, kami menjumpai batu dolmen terbesar se-Jawa Timur.
Batu yang berada di Dusun Krasak itu berukuran jumbo dengan kaki-kaki batunya yang masih utuh. Batu itu sudah terdaftar di Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Timur tahun 1997 silam. Nomor registrasi yang ditulis di batu itu pun 29.MKK.97. Dengan penjabarannya, batu nomor ke-29 Maskuning Kulon (MKK) dan didaftarkan tahun 1997.
Selain batu terbesar, terdapat pula batu dolmen yang dulunya digunakan sebagai tempat sesajen. Batu itu berada di tengah persawahan warga di Dusun Krasak. Unang Rahardjo, kepala desa setempat, mengatakan bahwa memang di desanya tersebut sudah sejak lama ditemukan banyak batu dolmen. “Di sini memang banyak batu-batu dolmen. Ada yang berada di halaman rumah warga, juga ada yang dikebun atau sawah warga,” ungkap Unang.
Tantri menambahkan, pemetaan rute itu menjadi persiapan materi kunjungan dari UNESCO yang direncanakan tahun ini. “Sesuai dengan Ijen Geopark Bondowoso yang sedang berjalan untuk persiapan kunjungan dari UNESCO. Desa ini menjadi salah satu jujukan destinasi culture site Ijen Geopark,” beber Tantri.
Situs megalitikum itu tentu sangat bermanfaat bagi warga desa. Selain dapat mengangkat nama Desa Maskuning Kulon sebagai situs megalitikum, juga bermanfaat bagi perekonomian masyarakat. Multiplier effect-nya nanti akan berjangka panjang. “Ini momen penting bagi bidang purbakala yang ada di Bondowoso. Karena termasuk cagar budaya yang berbasis masyarakat. Apalagi Ijen Geopark ini berkolaborasi dengan masyarakat, perangkat desa memanfaatkan cagar budaya yang ada,” jelas Tantri.