RADAR JEMBER - Sangat penting untuk tidak langsung mengambil kesimpulan terlalu dini hanya dari satu pertandingan, tetapi AC Milan asuhan Ruben Amorim tampaknya sudah benar-benar memutuskan hubungan dengan masa lalu mereka.
La Gazzetta dello Sport menulis bahwa beberapa hal sudah dapat dipahami hanya dalam waktu 12 detik.
Langsung dari kick-off pada Senin dini hari yang dilakukan Torino, sudah ada empat pemain berseragam putih (Milan) di area penalti kiper Mascardi, dan mereka jelas tidak berada di sana hanya untuk memeriksa apakah titik penalti digambar dengan benar.
Baca Juga: DONE DEAL! Nkunku Akhirnya Resmi OUT dari AC Milan
Secara sederhana, skuad Amorim menginginkan bola. Kurang dari 15 detik setelah pertandingan berjalan, kita sudah melihat manifesto visual dari ide-ide Amorim. Pelatih asal Portugal ini ingin timnya menguasai bola, menekan tinggi, dan bertahan setinggi mungkin untuk mencapai dominasi.
Beberapa data membantu kita untuk memahaminya dengan lebih baik. Setelah setengah jam permainan, Milan memiliki 78% penguasaan bola—sebuah angka yang hampir tidak realistis—dan menyelesaikannya dengan 59%, masih jauh di atas rata-rata 52% musim lalu.
Baca Juga: Lewati Legenda Batistuta! Donyell Malen Ngamuk Cetak Sejarah Baru Bersama AS Roma
Di babak pertama saja, mereka melepaskan 10 tembakan dari dalam kotak penalti. Hal ini hampir tidak pernah terjadi di bawah asuhan Massimiliano Allegri.
“Ini adalah kontras total dalam segala aspek. Allegri suka bertahan dalam (deep block), Amorim melatih untuk bertahan ke depan (forward). Allegri dengan rela memberikan bola kepada lawan, Amorim membuka konferensi pers pertamanya dengan kalimat ‘kami ingin mengendalikan bola’.”
Selera juga sangat berbeda jika menyangkut pemilihan pemain. Allegri memiliki Yunus Musah dan Samuel Chukwueze di tur pramusim setahun yang lalu namun membiarkan mereka pergi dengan status pinjaman.
Amorim bertindak sebaliknya: ia tidak hanya memanggil mereka kembali, ia memilih mereka sebagai starter dan keduanya tampil memukau.
Bagi Fikayo Tomori, Santiago Gimenez, dan Youssouf Fofana, hal yang sebaliknya berlaku; mereka kini terpinggirkan.
Pendekatan dengan Rafael Leao juga sangat berbeda. Musim panas lalu ia menjadi pusat serangan, sementara Amorim kini memiliki Alphadjo Cisse di sisi kiri, yang langsung mencetak gol pada debut penuhnya.
Editor : M. Ainul Budi