Radar Jember – Meskipun laga puncak Piala Dunia 2026 sudah tinggal menghitung hari, perdebatan seputar keputusan wasit di fase gugur masih terus menjadi sorotan publik.
Kali ini, perdebatan sengit muncul terkait penerapan aturan "identitas keliru" (mistaken identity) yang berujung pada kartu merah untuk striker Swiss, Breel Embolo, saat menghadapi Argentina pada laga 11 Juli lalu.
Badan Regulasi Sepak Bola Dunia (IFAB) sempat merilis interpretasi bahwa kartu merah yang dikeluarkan wasit asal Portugal, Joao Pinheiro, setelah meninjau VAR adalah tindakan yang keliru.
Baca Juga: Swiss Kena Prank VAR Lawan Argentina, IFAB Akui Kartu Merah Embolo Murni Kesalahan Wasit!
Menurut pandangan IFAB, aturan VAR memang mengizinkan perubahan sanksi jika terjadi salah tangkap terhadap pelaku pelanggaran (dalam kasus tersebut, Leandro Paredes yang awalnya diberi kartu akibat pelanggaran yang sejatinya tidak ada).
Namun, protokol dianggap tidak mengizinkan pengubah bentuk pelanggaran itu sendiri dari yang semula pelanggaran fisik menjadi aksi diving (simulasi).
FIFA Pasang Badan, Sebut Keputusan Wasit Sudah Adil
Tak lama setelah pernyataan IFAB memicu kegaduhan, induk organisasi sepak bola dunia (FIFA) langsung pasang badan membela keputusan wasit.
Baca Juga: Tergiur Proyek Raksasa Turki, Hakan Calhanoglu Bakal Tinggalkan Inter Milan?
Melalui pernyataan resminya, FIFA menegaskan bahwa tindakan wasit sudah sejalan dengan semangat keadilan dalam sepak bola.
FIFA juga menyinggung insiden serupa yang dialami Miguel Almiron dalam laga Paraguay versus Amerika Serikat.
"Interpretasi FIFA mengenai Identitas yang Keliru telah diterapkan secara konsisten sepanjang gelaran Piala Dunia FIFA," tegas pernyataan resmi FIFA di media sosial.
FIFA menambahkan bahwa aksi diving pemain lawan tidak boleh membuahkan sanksi disiplin bagi pemain yang tidak bersalah, apalagi hingga berujung fatal seperti kartu merah atau akumulasi kartu.
"Simulasi tidak boleh menghasilkan sanksi disipliner terhadap lawan yang dapat memicu konsekuensi lebih jauh, seperti kartu merah dari kartu kuning kedua atau sanksi larangan bertanding akibat akumulasi kartu," jelas FIFA mengenai dampak ketidakadilan jika kartu tersebut tetap dipertahankan.
"Kami tidak menganggap ini sebagai kesalahan wasit atau VAR, dan keputusan tersebut justru berhasil mengembalikan keadilan di lapangan. Kami telah mencatat komentar IFAB, terus berkoordinasi dengan mereka sepanjang proses ini, dan mengonfirmasi bahwa interpretasi ini valid. Hal ini disambut baik serta akan menjadi bagian dari diskusi revisi Protokol VAR ke depan," lanjut FIFA memastikan bahwa mereka akan memperjelas celah hukum dalam regulasi tersebut demi menghindari kerancuan di masa mendatang.
Editor : Imron Hidayatullahh