Radar Jember - Euforia selepas gelaran Piala Dunia 2026 rupanya belum sepenuhnya mereda. Kali ini, giliran Presiden LaLiga, Javier Tebas, yang melontarkan kritik pedas yang mengarah langsung ke federasi tertinggi sepak bola dunia tersebut.
Pria berusia 63 tahun ini secara terbuka mendesak Presiden FIFA, Gianni Infantino, untuk segera mengundurkan diri demi menyelamatkan industri sepak bola dari kehancuran.
Kemarahan Tebas memuncak seiring mencuatnya wacana dari petinggi CONMEBOL terkait opsi ekspansi gila-gilaan pada Piala Dunia 2030 mendatang—yang akan diselenggarakan bersama oleh Spanyol, Portugal, dan Maroko—dengan menambah jumlah peserta dari 48 menjadi 64 tim.
Di mata Tebas, langkah ekstrem tersebut tidak lain merupakan bentuk perusakan sistematis terhadap ekosistem sepak bola global.
Mengorbankan Industri demi Ajang 40 Hari
Dalam wawancara eksklusif bersama media ternama Italia, Tebas menolak keras wacana pembengkakan jumlah peserta turnamen tersebut. Ia menilai FIFA telah bertindak sangat tidak bertanggung jawab lantaran tega mengorbankan kompetisi domestik.
"Menambah jumlah tim nasional sama sekali tidak masuk akal," tegas Tebas. "Industri sepak bola bukan sekadar Piala Dunia, meski itu acara yang paling penting. Tetapi tidak semuanya bisa berputar di sekitar Piala Dunia. Kompetisi nasional (liga domestik)-lah yang menopang olahraga ini."
Lebih jauh, ia menuding deretan kebijakan Infantino perlahan mengikis mata pencaharian banyak pihak.
"Mereka menghancurkan industri sepak bola, industri yang menghasilkan puluhan ribu pekerjaan, hanya demi sebuah acara yang berlangsung 40 hari dan hanya diikuti oleh sebagian kecil pemain. Kita butuh lebih sedikit jeda tim nasional dan lebih banyak perlindungan untuk sepak bola nasional di semua level. Mereka tidak menyadari hal ini; mereka mengambil keputusan dengan tidak bertanggung jawab."
Skandal Folarin Balogun dan 'Jeda Minum Palsu'
Kritik Tebas tak berhenti pada wacana Piala Dunia 2030 saja. Ia turut menguliti berbagai skandal dan kejanggalan yang mewarnai enam pekan penyelenggaraan Piala Dunia 2026 di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko.
Sejumlah isu panas yang disemprot Tebas meliputi kendala penerbitan visa hingga dugaan intervensi politik tingkat tinggi sewaktu Pemerintah AS dan Presiden Donald Trump turun tangan untuk membatalkan sanksi skorsing penyerang Timnas AS, Folarin Balogun.
Tebas menilai FIFA sudah bermain api dalam manuver pembebasan sanksi Balogun dan hanya terselamatkan oleh keadaan.
"Pembatalan skorsing pemain Amerika itu adalah sesuatu yang sangat fatal. Mereka beruntung karena Belgia menyingkirkan AS (di babak 16 besar). Jika tidak, sebuah kasus besar bisa tercipta dan itu bisa membuat Infantino kehilangan pekerjaannya," cibir Tebas.
"Karena Belgia menang, mereka berhasil mengubur masalah tersebut. Tapi hal-hal ini hanyalah puncak gunung es," tambahnya.
Tebas juga membongkar motif di balik aturan hydration break (jeda minum) yang diterapkan FIFA selama kompetisi. Menurut pengamatannya, hal itu murni akal-akalan demi kepentingan komersial.
"FIFA mengatur hal-hal sesuka mereka, untuk kepentingan mereka, jelas bukan untuk sepak bola. Jeda minum itu bohong. Kami menerapkannya di LaLiga, tetapi hanya saat cuaca benar-benar panas. Di sana, stadion di Dallas, Los Angeles, dan Atlanta menggunakan AC—saya bahkan harus memakai sweter di tribune. Itu semua bohong, itu hanya jeda untuk iklan," sergahnya.
Sistem FIFA yang "Sakit dari Akarnya"
Meski dihujani gelombang kritik tajam, Gianni Infantino (56) diprediksi bakal kembali melenggang mulus menduduki masa jabatan keempatnya pada kongres FIFA Maret mendatang. Kondisi inilah yang membuat Tebas kian muak terhadap aksi bungkam para federasi sepak bola dunia.
"Menurut saya, ya (ia harus mundur, Red), saya pikir masanya sudah habis," tambah Tebas. "Tetapi dia mendapat dukungan dari sistem, dari federasi-federasi. Tidak ada kandidat oposisi, tidak ada yang mau maju hanya untuk kalah. Inilah sistemnya dan ini adalah sistem yang sakit dari akarnya."
Menutup wawancaranya, Tebas menyayangkan sikap munafik dari para petinggi sepak bola yang gemar mengeluhkan manuver Infantino di belakang layar, tetapi ciut untuk mengambil tindakan nyata.
"Saya tidak tahu apakah diam atau terlibat langsung itu lebih buruk, karena mereka yang diam sebenarnya sangat sadar akan kerusakan yang sedang diderita sepak bola," pungkasnya.
Editor : Imron Hidayatullahh