Radar Jember - Kendati gelaran Piala Dunia 2026 baru saja usai pada Minggu (19/7/2026) dengan menobatkan Spanyol sebagai kampiun, atensi para pencinta sepak bola dunia kini mulai beralih ke edisi Piala Dunia 2030.
Tak kalah unik dari edisi 2026 yang dihelat di tiga negara—Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko—Piala Dunia 2030 dijadwalkan berlangsung spektakuler di enam negara yang melintasi tiga benua.
Berdasarkan rilis di laman resmi FIFA pada (19/3/2026), enam negara yang ditunjuk menjadi tuan rumah Piala Dunia 2030 meliputi Spanyol, Portugal, Maroko, Uruguay, Argentina, dan Paraguay.
Porsi terbesar pertandingan akan diselenggarakan di Spanyol, Portugal, dan Maroko. Sementara itu, Uruguay, Argentina, dan Paraguay masing-masing akan menggelar satu laga pembuka khusus guna merayakan seabad (100 tahun) sejarah perjalanan Piala Dunia.
Baca Juga: Tak Sekadar Cek Kesehatan, Anggota Fraksi PKB Bondowoso Juga Kawal Pengobatan Warga Hingga Sembuh
Sesuai draf jadwal yang diusulkan FIFA, laga peringatan seratus tahun di Uruguay, Argentina, dan Paraguay akan bergulir pada 8 dan 9 Juni 2030. Setelah parade di Amerika Selatan usai, panggung kompetisi akan bergeser ke Maroko, Portugal, dan Spanyol.
Seremoni pembukaan utama serta pertandingan pertama di tiga negara tersebut diproyeksikan berlangsung pada 13 dan 14 Juni 2030, dengan partai puncak yang direncanakan pada 21 Juli 2030. Meski demikian, rincian jadwal pertandingan secara menyeluruh belum dirilis resmi oleh FIFA.
Mempertimbangkan jarak geografis yang membentang jauh, tim-tim yang berlaga di tiga pertandingan awal di kawasan Amerika Selatan bakal dianugerahi waktu ekstra untuk perjalanan, pemulihan fisik, serta persiapan menghadapi laga berikutnya.
Adapun kontestan lain yang terundi dalam grup yang sama dengan Uruguay, Argentina, dan Paraguay diperkirakan baru melakoni laga perdana pada 15 dan 16 Juni, disusul matchday kedua pada 21 dan 22 Juni.
FIFA turut membeberkan pertimbangan di balik penunjukan enam negara ini. Uruguay dipilih menjadi salah satu panggung laga pembuka lantaran statusnya sebagai tuan rumah edisi perdana Piala Dunia pada 1930.
Argentina memperoleh kesempatan serupa berkat statusnya sebagai runner-up di turnamen pertama tersebut.
Sedangkan Paraguay terpilih karena menjadi markas besar Konfederasi Sepak Bola Amerika Selatan (CONMEBOL)—satu-satunya konfederasi kontinental yang sudah berdiri saat Piala Dunia pertama kali digulirkan.
Skema ini menjadikan Piala Dunia 2030 sebagai turnamen sepak bola pria pertama dalam sejarah yang membentang di enam negara dan tiga benua.
Keenam negara penyelenggara pun dipastikan mengantongi tiket lolos otomatis ke putaran final, sementara 42 slot tersisa akan diperebutkan melalui jalur kualifikasi di tiap konfederasi.
Kendati perhelatannya masih cukup jauh, Piala Dunia 2030 sudah memicu berbagai wacana, khususnya terkait format jumlah kontestan.
Mengutip laporan Kompas.com pada Senin (20/7/2026), Piala Dunia 2030 mulanya dirancang untuk diikuti oleh 48 tim—format yang debut pada Piala Dunia 2026 di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko.
Namun, belakangan muncul usulan agar jumlah partisipan diekspansi hingga 64 tim. Presiden FIFA, Gianni Infantino, mengonfirmasi bahwa wacana perluasan tersebut akan dikaji secara mendalam.
Menurut Infantino, penerapan format 48 tim di Piala Dunia 2026 terbukti menjadi sebuah "kesuksesan besar" karena mampu membuka ruang bagi lebih banyak negara untuk mencicipi panggung tertinggi.
Atas dasar itulah, pihak FIFA akan mendalami serta mendiskusikan potensi penerapan format 64 tim untuk edisi mendatang.
Editor : Imron Hidayatullahh