Radar Jember – Ada pemandangan yang berbeda di kamp pelatihan Inggris menjelang perempat final Piala Dunia 2026.
Alih-alih atmosfer penuh tekanan yang biasanya menyelimuti The Three Lions saat berlabel tim bertabur bintang, kali ini yang terlihat justru ketenangan.
Tidak ada lagi ego individu yang mencuat; yang ada hanyalah harmoni tim yang solid.
Selama bertahun-tahun, Inggris sering terjebak dalam narasi tim dengan pemain terbaik dunia yang justru gagal saat bersatu.
Namun, di Piala Dunia edisi ini, narasi itu tampak sudah usang.
Para pemain bintang seolah sepakat untuk menanggalkan ambisi pribadi demi satu tujuan kolektif: membawa pulang trofi.
Baca Juga: Inggris dan Kutukan 8 Besar: Antara Mimpi Juara dan Stempel Spesialis Perempat Final
Transformasi ini terlihat jelas di atas lapangan. Kemenangan dramatis 3-2 atas Meksiko di babak 16 besar bukan sekadar hasil dari ketajaman lini depan, melainkan buah dari kerja keras kolektif seluruh skuad.
Mereka bermain sebagai unit, saling menutupi lubang, dan berjuang hingga peluit akhir.
Harry Kane, yang biasanya menjadi sorotan utama, kini lebih banyak berfungsi sebagai komandan di lapangan yang mengutamakan kelancaran alur serangan tim.
Demikian pula Jude Bellingham, yang tampil heroik dengan dua golnya ke gawang Meksiko, tetap menunjukkan kerendahan hati dan dedikasi penuh pada skema taktik pelatih.
Bahkan, transisi tim dari babak 32 besar saat menundukkan DR Kongo 2-1 juga menunjukkan kedalaman skuad yang merata.
Tidak ada pemain yang merasa lebih besar dari tim. Setiap pemain tahu peran mereka, dan setiap peran dijalankan dengan komitmen tinggi tanpa memandang status bintang di klub masing-masing.
Pertandingan perempat final melawan Norwegia di Miami Stadium nanti akan menjadi ujian sesungguhnya bagi mentalitas baru ini.
Baca Juga: Diskoperindag Bondowoso Akui Siap Tindaklanjuti Evaluasi DPRD, Fokus Dampak Nyata Program
Norwegia datang dengan kepercayaan diri tinggi setelah menyingkirkan tim raksasa, namun Inggris tampaknya tidak akan gentar. Mereka kini fokus pada proses daripada sekadar hasil.
Bagi para pendukung, perubahan ini memberikan secercah harapan baru.
Optimisme melambung tinggi, bukan karena banyaknya bintang, melainkan karena melihat tim yang benar-benar hidup sebagai satu keluarga di lapangan.
Inilah Inggris yang dirindukan publik, yaitu tim yang bermain dengan hati dan tanpa beban ego.
Menjelang laga krusial ini, mata dunia akan kembali tertuju pada Miami.
Apakah Inggris mampu melanjutkan tren positif ini dan melangkah ke semifinal? Jika melihat performa tanpa ego yang mereka tunjukkan sejauh ini, jalan menuju kejayaan di Amerika Serikat sepertinya sedang terbuka lebar bagi Harry Kane dan kawan-kawan. (dhi)
Editor : M ADHI SURYA