Radar Jember – Inggris kembali menginjakkan kaki di perempat final Piala Dunia 2026. Namun, bagi The Three Lions, fase ini bukan sekadar babak delapan besar, ini adalah arena di mana mimpi mereka sering kali harus kandas di tengah jalan.
Bayang-bayang masa lalu seolah mengikuti langkah Harry Kane dan kawan-kawan.
Meski datang dengan skuad bertabur bintang, Inggris membawa beban sejarah yang berat, yakni kutukan perempat final yang kerap menghantui setiap edisi turnamen mereka sebelumnya.
Baca Juga: Inggris dan Kutukan 8 Besar: Antara Mimpi Juara dan Stempel Spesialis Perempat Final
Modal moral skuad asuhan pelatih Inggris ini sebenarnya cukup apik setelah melewati adangan alot di babak sebelumnya.
Mereka berhasil menundukkan tuan rumah Meksiko dengan skor ketat 3-2 di babak 16 besar, sebuah laga yang membuktikan mental baja tim di bawah tekanan.
Jadwal krusial kini menanti di depan mata. Pada 11 Juli 2026, Inggris harus membuktikan kelasnya saat berhadapan dengan Norwegia di Miami Stadium.
Pertandingan ini menjadi penentu apakah Inggris bisa memutus rantai kegagalan atau justru kembali harus pulang lebih awal dengan kepala tertunduk.
Norwegia bukanlah lawan sembarangan yang bisa dipandang sebelah mata.
Mereka melaju ke perempat final dengan kepercayaan diri tinggi, menjadikannya lawan yang paling tepat sekaligus berbahaya untuk menguji ketangguhan Inggris yang sesungguhnya di turnamen ini.
Di sisi lain, Inggris memiliki alasan untuk optimistis. Penampilan heroik Jude Bellingham yang mencetak dua gol serta eksekusi penalti Harry Kane saat melawan Meksiko menjadi suntikan moral yang sangat berharga.
Kolektivitas ini menjadi kunci yang diharapkan mampu meredam agresivitas lawan. Pertarungan di Miami ini akan menjadi ujian mentalitas bagi seluruh skuad.
Strategi di lapangan hijau memang penting, namun ketenangan dalam menghadapi tekanan di menit-menit akhir akan menjadi faktor penentu siapa yang layak melaju ke babak semifinal.
Bagi publik Inggris, harapan itu masih menyala. Apakah 11 Juli nanti akan menjadi malam bersejarah di mana "tembok" perempat final akhirnya runtuh, atau justru akan menjadi pengulangan dari narasi lama yang menyakitkan? Dunia sedang menunggu jawabannya. (dhi)
Editor : M ADHI SURYA