RADAR JEMBER - Ketegangan luar biasa melanda atmosfer menjelang laga hidup-mati babak 16 besar Piala Dunia 2026. Pelatih Mesir, Hossam Hassan, menggunakan konferensi pers sebelum pertandingan mereka melawan Argentina pada 7 Juli pukul 23.00 untuk menyampaikan pesan politik, yang kembali memicu kontroversi seputar Piala Dunia. Ia juga menyatakan bahwa ia tidak takut pada Messi.
Menurut Reuters, peraturan FIFA dan regulasi turnamen melarang slogan politik pada perlengkapan, tetapi Reuters belum dapat segera memverifikasi hal ini. Selain itu, ada peraturan yang melarang pelatih untuk menyampaikan pandangan politik dalam konferensi pers.
Baca Juga: Prediksi dan Analisa Argentina vs Mesir: Duel Messi dan Moh Salah
Hal ini dapat menyebabkan penyelidikan FIFA terhadap pernyataan pelatih Hossam Hassan sebelum pertandingan Argentina melawan Mesir pada 7 Juli dan dapat mengakibatkan hukuman berat bagi pelatih berusia 59 tahun itu.
Ketegangan politik seputar Piala Dunia meningkat setelah pelatih kepala Mesir, Hossam Hassan, menggunakan konferensi pers resmi FIFA untuk menyerukan dukungan bagi rakyat Palestina menjelang pertandingan babak 16 besar melawan Argentina, menurut Reuters.
Reuters menambahkan: "Pernyataan Hassan muncul ketika FIFA membela proses disiplinnya, menyusul kritik atas keputusannya untuk menangguhkan kartu merah yang diberikan kepada pemain AS Folarin Balogun, sebuah langkah yang dipuji oleh Presiden AS Donald Trump."
Baca Juga: HERE WE GO! Tonali Tak Jadi ke AC Milan, Tottenham Pilihan yang Tepat?
Selama konferensi pers untuk pertandingan Mesir vs. Argentina di Atlanta, AS, pelatih Hassan menerima pertanyaan tentang Messi dan peluang Mesir melawan juara bertahan Argentina, tetapi ia hanya berbicara panjang lebar tentang Palestina, lapor Reuters.
Hassan kemudian mengakui bahwa timnya adalah tim yang tidak diunggulkan, tetapi menegaskan bahwa mereka tidak akan gentar. Sang pelatih berkata: "Kami tahu kami bermain melawan juara Piala Dunia bertahan, dan salah satu pemain terhebat sepanjang masa (Messi), tetapi kami tidak takut pada mereka."
Editor : M. Ainul Budi