RADAR JEMBER — Inter Milan memang tidak tampil buruk saat menghadapi Arsenal di Liga Champions, namun perbedaan kualitas antara kedua tim terlihat jelas sepanjang pertandingan.
Kesenjangan tersebut semakin mencolok jika melihat komposisi skuad yang diturunkan tim asal London, yang meski melakukan rotasi tetap mampu tampil dominan dan efektif.
Musim ini, jarak antara klub-klub elite Eropa—khususnya 4–5 tim unggulan Liga Champions—dengan tim-tim lain dinilai semakin melebar.
Faktor utama yang memperbesar jurang tersebut adalah kekuatan finansial, di mana klub-klub papan atas mampu menginvestasikan 300–400 juta euro di setiap bursa transfer, sesuatu yang sulit disaingi mayoritas klub Eropa, termasuk Inter.
Dalam konteks tersebut, fokus penuh Inter pada perebutan scudetto dinilai bukan sebagai bentuk minimnya ambisi, melainkan keputusan yang dilandasi realisme olahraga dan ekonomi.
Menargetkan gelar Serie A dianggap sebagai prioritas paling masuk akal, mengingat padatnya tuntutan kompetisi dan keterbatasan sumber daya dibanding rival-rival Eropa.
Sebaliknya, memaksakan target juara Liga Champions tanpa fondasi finansial dan kedalaman skuad yang sepadan justru dinilai sebagai langkah berisiko dan tidak rasional.
Kekalahan dari Arsenal memastikan Inter gagal menembus delapan besar fase liga Liga Champions, sehingga Nerazzurri harus melanjutkan perjuangan melalui babak play-off yang akan digelar pada Februari.
Tantangan berat sudah menanti, sementara fokus ganda antara Eropa dan domestik akan kembali menguji konsistensi pasukan asuhan Cristian Chivu.
Bagi Inter, realitas musim ini jelas: menjaga ambisi tetap hidup, namun dengan pijakan yang masuk akal—dimulai dari Serie A.